April 29, 2008

Ketika Aku Terjerembab (lagi)…

Posted in Journal at 4:48 pm by justrere

Dari dulu, sebelum terkena ‘pentungan-pentungan’ dari orang-orang terdekat, kebiasaan jelek (mungkin ada baiknya, meski sedikit), saya suka terlalu khawatir dengan orang-orang di dekat saya. Mungkin ada yang nyaman, ada juga yang biasa ajah, tapi ada juga yang yang merasa jengah atau terkekang juga akibat dari rasa kuatir saya akan mereka. Mungkin ini adalah hal yang kita tidak sadari ketika kita sayang dengan orang lain secara berlebihan. Iyah kalau sadar kalau hal itu berlebihan, tapi kalo enggak sadar bahwa hal itu berlebihan, itu yang susah kali yah.

Seperti hari ini, seperti saya menguatirkan my sista. Sejak kemarin tidak ada kabar berita. Saya sampai telepon kantornya, langsung ke mejanya, tidak ada jawaban, mungkin saja dia tidak masuk. Saya mulai berpikir, ada apa gerangan. Apakah berhubungan dengan pangerannya. Begitu banyak pikiran terlintas di pikiran. Seperti saat my inu (terpaksa pake nama ini, hehehe takut ketauan, lagi pula kamu masi suka inuyasha, bukan 🙂 ) hanya terdiam ketika saya sapa. Mulai dari pikiran biasa hingga pikiran terjelek sekaligus. Biasanya saya mampu menasehati teman-teman saya jika dalam keadaan sama dengan saya, “cobalah rileks dan enggak berpikir yang jelek-jelek. cobalah alihkan perhatian dengan kesibukan yang lain”. Tapi semua teori hanya menjadi kata-kata jika kita terpuruk dan merasa malas bersibuk-sibuk ria 🙂 Tapi memang harus berusaha dari dalam diri, enggak bakal bisa berubah kalo dalam diri terlalu malas untuk berubah, kan 🙂

Seperti ketika persaaan saya kacau balau. Niat awal untuk berbagi rasa dengan orang-orang terdekat, mulai dari my guide hingga best frend yang ada. My guide bilang “kamu terlalu kuatir, serahkan aja semua kepada Allah yang hakiki, toh semua milikNya…” makasih, bang… 🙂 Lalu, ada pembicaraan dengan Ndutty, dia bilang saya berlebihan, dan bikin orang merasa dikekang. “Toh, baru sehari ngilang, kan dulu juga pernah gitu. Siapa lagi hapenya ketinggalan lagi. Kamu jangan mikir berlebihan gitu. Sapa tau dia emang pingin dewe an. Kalo kamu parani (mendatangi) rumahnya, ya dia pasti merasa gak enak, merasa terkekang”. Iya yah… jujur tidak mikir sampai kesana. yah gini deh kalo lagi mellow, pasti enggak bisa mikir jauhan dikit 🙂 Tengkyu, ndut. Terakhir ngobrol ma Nduk…. Dia bilang, “kamu emang berlebihan. bla…bla… (lupa, hehehe). coba kamu 3x nanya pas pagi. 3x nanya pas siang. 3x nanya pas malem klo emg ga dibalas kebangetan. klo uda 3x ditanyain ga ada respon, ya sudah, biarkan dulu kyk klo ngetok pintu rumah orang, katanya klo da 3x ga dibukain, tinggal aja (Nduk, sejak kapan ada aturan kayak gitu, hehehehe). km tu sayaaang bgt sama temen disekitarmu, tapi km tu lupa untuk sayang sama diri km sendiri.menyiksa diri untuk memperhatikan org laen, sementara km itu ga perna memperhatikan diri sendiri, i guess”. Hmmm, kadang ada saat kita enggak bisa melihat secara objektif terhadap kita sendiri yah…..

So, buat orang-oran terdekat yang sering aku kuatirkan, my guide, ndutty, nduk, my sista dan my inu… Re mohon maaf yah…. enggak nyangka kalo mungkin perhatian yang Re berikan bisa bikin kalian enggak nyaman. Yup, segala sesuatu yang berlebihan pasti enggak baik, kan? 🙂 Terima kasih sudah mengingatkan diriku kembali.

– buat my sista, maafkan kelakuan adekmu yang bawel ini 😛 sudah bikin segalanya tambah rumit (maybe), so kita bisa belajar dari kejadian ini. gud luck buat perjalanan ke ambarawanya, wish you all the best, sista. Kadang apa yang terbaik bukan berarti yang terindah buat dijalani. jangan dilihat indah tidaknya, tapi apakah especially keputusan itu baik buat diri kita apa ndak…. 🙂 (thanks for ndutty buat sms nya 🙂 )-

Read the rest of this entry »

Advertisements

April 26, 2008

Indah Pada Waktunya

Posted in Thought's Box at 4:33 am by justrere

Setiap manusia pasti memiliki mimpi masing-masing yang ingin diwujudkan menjadi nyata. Termasuk mimpi tentang hidup bersama dengan orang yang disayanginya, hingga maut memisahkan. Mungkin akan terdengar melankolis, tapi sejatinya itulah yang kita inginkan sebagai manusia yang dianugerahi dengan cinta, bukan? Mungkin banyak diantara kita yang saat ini sudah memiliki calon pendamping hidup, dan tinggal beberapa langkah lagi mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Kita dan dirinya, calon pasangan hidup kita, sudah merencanakan sebaik mungkin untuk mewujudkan mimpi itu. Berbagai rencana dari A hingga Z telah dirancang demi kesempurnaan mimpi kita. Di tengah jalan, tiba-tiba orang tua kurang sependapat dengan jalan yang kita tempuh dalam mewujudkan mimpi. Mereka bukan tidak setuju dengan mimpi kita, tapi kurang setuju dengan proses yang kita pilih. Saat itu kita rasanya marah, kecewa, semua perasaan sedih berkecamuk di hati. Begitu banyak pertanyaan “kenapa”, “mengapa” berada dalam kepala, saling sahut-menyahut tanpa ada jawaban yang memuaskan. Di sisi lain, kita yakin dengan proses yang kita pilih, tapi juga tak bisa acuh dengan orang tua kita. Kenapa keadaan tidak memihak pada kita, padahal dulu keadaan begitu mendukung mimpi ini. Kita mulai mempertanyakan dimana keadilan Tuhan bagi umatNya. Mulai ragu, apakah Tuhan ada disana untuk mendengarkan pinta pada hambaNya.

Seiring dengan berjalannya waktu, mendung perlahan mulai tergantikan dengan awan cerah. Mulai ada jalan untuk kompromi antara kita dengan orang tua dan keadaan sekitar. Kita mulai bisa melihat dalam kabut tipis yang masih menyelimuti perjalanan ini. Tapi kita tahu, bahwa kita khilaf, sudah berprasangka buruk terhadap Tuhan. Ternyata Tuhan mendengar semua pinta kita. Hanya Tuhan masih menunggu, menunggu kesiapan kita untuk menerima lebih banyak lagi anugerah dan nikmatNya. Mungkin kemarin Tuhan melihat dari atas sana, kita masih belum pantas untuk menerima semua mimpi kita. Dan Tuhan yang paling tahu kapan waktunya kita siap menerima ini semua dan hanya Tuhan yang tahu apa yang paling kita butuhkan bukan saja kita inginkan sementara saja. Karena Tuhan akan menjadikannya indah semua nikmat dan anugerahNya ketika tiba saatnya.

Since YOU Came Into My WORLD

Posted in Poem, Prosa at 4:30 am by justrere

Kau datang tak terduga
Seperti hujan di pagi ini
Sejuk dan lembut
Membasuh hatiku yang kosong

Kau bawa senyum
Kau beri damai
Kau tawarkan kehangatan
Yang selama ini hanya angan

Tak pernah terkira
Hadirmu tlah membiusku
Tak pernah berprasangka
Bayanganmu tlah merasuki jiwaku

Setapak demi setapak
Kau pupuskan ragu yang ada
Menuntunku dengan sayapmu
Ajariku terbang, menjemput asa
Yang dulu hanya ada dalam mimpi

Pintaku pada Sang Pemilik Cinta
Semoga mimpiku dan mimpimu
Akan menjadi mimpi paling sempurna
Dan hanya akan menjadi milik kita…

Pelangi Rindu

Posted in Poem, Prosa at 4:28 am by justrere

Kala kau hadir dalam hari-hariku
Ku tak bergeming
Saat kamu tawarkan asa yang ku rindu
Ku masih ragu…

Kau tak pernah menyerah atasku
Perlahan, tapi pasti
Kau berikan senyuman
Kau berikan tawa
Dalam setiap malam-malamku

Duniaku menjadi berwana-warni
layaknya pelangi ketika hujan turun
kau sirami hati ini
dengan peluh cintamu

Kau bawa diri ini
terbang ke dalam relung hatimu
Kau bawa jiwa ini
merasakan kehangatan cinta

Meski terbentang jarak,
Memendam pelangi rindu
Hanya satu yang pasti
mereguk Asa kita, ‘tuk selalu bersama

-dibuat untuk dirinya disana yang sedang merenda kasih dan rindu dengan pujaan hatinya. semoga dapat sedikit terhibur 🙂 –

(masih) Menantimu disini…

Posted in Poem, Prosa at 4:26 am by justrere

Menyusuri hangatnya pasir
Sehangat pelukanmu padaku
Masih jelas terasa
Tapi bayangmu tlah berlalu
Bersama ombak pantai

Waktu kian berlalu
Tinggalkan Ku menepi
Ku hanya menanti
Bayangmu dalam mimpiku

Rindu ini bagai panah
Yang membunuhku perlahan
Tanpa pernah tahu
Kapan datangnya waktu
Asamu menjemput sisa jiwaku

12 Agustus 2007, 17.01 WIB, Mosque depan Kantor Klampis

-Kemarin menemukan puisi ini. Saya simpan disini, agar tidak tercecer 🙂 –

April 24, 2008

Mendapat Hati dan Kepercayaan dari Orang Lain

Posted in Thought's Box at 3:37 pm by justrere

Pernah mendengar ungkapan bahwa mendapatkan sesuatu jauh lebih mudah daripada menjaganya? Bagi saya pribadi, sebenarnya sama saja, hanya tantangan yang ada berbeda. Begitu pula dengan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Pagi ini, seorang teman mencoba meminta ijin kepada orang tuanya untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Dia ingin mengikuti kegiatan dengan komunitasnya yang kebetulan diadakan di luar kota. Selain itu juga untuk menemui pujaan hatinya 🙂 Teman saya ini kebetulan perempuan. Saat orang tuanya tidak memberi ijin, dia langsung mutung. Mutung adalah bahasa jawa dalam pergaulan, yang artinya bisa sama dengan ngambek. Membaca sms nya membuat saya sedikit tersenyum. Di umurnya yang sekitar 3 tahun di atas saya, dia masih bisa mutung ‘hanya’ karena tidak dapat ijin. Dia sempat bilang “tau gitu, gak usah bilang, langsung cabut kayak biasanya”. 🙂 Saya jadi ingat pengalaman pribadi, memang tidak mudah meminta ijin dimana posisi saya sebagai perempuan pergi ke luar kota tanpa dampingan orang kepercayaan keluarga, hanya teman-teman komunitas.

Mungkin pembelajaran tiap-tiap keluarga beda. Dulu saya pernah akan ditugaskan ke luar pulau oleh kantor, Ibu saya tidak memberi ijin, karena saya harus berangkat sendirian, padahal saya tidak kenal medannya. Tapi bagi saya tidak masalah. Tapi, karena saat itu saya tau keadaan Ibu saya, saya meminta teman kantor saya yang berangkat 🙂 Lalu kemarin, saat saya ingin ke Malang, saya mencoba meminta ijin Ibu, dengan alasan yang jujur, ingin bertemu teman dan saya perginya dengan salah satu teman laki-laki saya (bukan pacar, cuma teman 🙂 ). Seperti biasa Ibu saya akan tanya, naik apa, nginep dimana, berangkat dengan siapa, dan hal-hal lainnya. Saat itu saya memposisikan diri saya sebagai Ibu. Jika saya punya anak perempuan, dan anak saya pergi dengan orang yang tidak saya kenal dan menginap di tempat yang saya tidak tahu, tentunya saya juga khawatir kan? Cuma saat itu, ketika saya berbicara dengan Ibu saya, saya mencoba meyakinkan beliau, bahwa tujuan saya tidak anah-aneh. Jika tujuan kita baik, insyaAllah, hasilnya juga baik pula, kan.

Sedikit tips dari saya, ketika berbicara dengan orang tua, cobalah tatap matanya, tunjukkan lewat mata dan ekspresi anda, bahwa anda bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Dan memang tidka bisa langsung mendapat ijin. Semuanya butuh proses. Dan ketika tidka mendapatkan restu dari orang tua, jangan mutung dan marah terhadap mereka. Cobalah mengerti, mereka cuma khawatir saja. Pelan-pelan jelaskan kepada mereka tujuan anda meminta ijin dan anda harus jujur. Setiap Ibu akan memiliki insting apakah anaknya jujur atau tidak 🙂 Jelaskan pula, bahwa suatu hari kita akan menikah dan lepas dari orang tua. Perjalanan ke luar kota ini adalah bentuk pembelajaran diri menjadi lebih dewasa dan mandiri. Dan pengalaman itu akan berguna saat kita lepas dari orang tua nanti. Kalau niat kita baik, insyaAllah nantinya orang tua akan luluh juga dan memberikan ijin. Dan setelah mengantongi ijin, jangan kupa dijaga baik-baik amanah mereka. Sekali amanah mereka kita langgar, akan sulit mendapat kepercayaan mereka kembali. Dan jika tidak mendapat ijin, jangan tiba-tiba pergi begitu saja. Selain tidak mendapat restu bisa saja terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan selama perjalanan, juga membuat orang-orang di sekitar kita termasuk orang tua sangan khawatir. Dan bukan tidak mungkin orang tua akan semakin menekan kita. Jadi sebaiknya mengambil kepercayaan orang lain, terutama orang tua dengan pendekatan persuasif. Jika memang terjadi sedikit perdebatan kecil, usahakan intonasi suara tetap datar ke rendah, meski kadang hati juga sebel, tapi jangan sampai meninggi, tahan emosi, apalagi sampai ‘nyolot’, jangan sampai ya.

Mari belajar mengambil kepercayaan orang lain especially orang tua dengan cara yang lebih bijak dan menanggapi hasilnya juga dengan bijaksana dan dewasa 🙂

nb : Tulisan ini bukan bermaksud menyindir atau mendeskreditkan satu atau banyak orang. Hanya berusaha melihat dari sudut pandang yang lain, Out of The Mind, dan saling berbagi saja 🙂

April 19, 2008

dalam diam

Posted in just me, heart n mind, Poem, Prosa at 8:16 pm by justrere


dalam keramaian,
kau terdiam
dalam sepi,
kau juga bisu

tak ada sepatah kata terucap
dari bibir mungilmu
seperti layaknya,
ketika kau berceloteh riang

masih saja dalam diam,
ketika ku ajak bercerita
masih saja tak ada kata terucap,
saat ku mengusikmu

auramu kelabu
tak ada tawa
tak ada emosi
hanya mendung menggantung di sisi hatimu

– semoga mendung itu segera berlalu, dan kau akan tersenyum kembali sehingga dunia pun akan tersenyum bersamu. ini buat dirimu… –

April 15, 2008

Berjuanglah, Raka…!

Posted in Event, Journal at 9:25 pm by justrere

Minggu kemarin, 13 April 2008, teman-teman TPC (TuguPahlawan.com) yang terdiri dari Rere, Avy, Pak Gempur, Angki dan Cempluk, melakukan aksi sosial pertama dalam rangka kampanye Anti Gizi Buruk yang diusung oleh TPC tahun ini, yaitu memberikan bantuan kepada korban gizi buruk di RS Soewandhi Surabaya. Karena kesibukan teman-teman dari TPC, maka niat pertama untuk menyalurkan bantuan ke rumah masing-masing penderita gizi buruk terpaksa ditunda terlebih dahulu. Sebagai gantinya, kami langsung memberikan bantuan berupa dana kepada pasien gizi buruk di RS. Soewandhi.

Menjelang pukul 13.00 siang, kami semua telah berada di RS. Soewandhi, dan langsung menuju ke kamar pasien, Raka. Raka adalah salah satu pasien gizi buruk yang sudah pernah diliput di media cetak, Jawa Pos. Sebenarnya, Raka mempunyai saudara kembar, Rafa (kalau tidak salah, ini namanya) sayangnya saudaranya tidak mampu bertahan, dan meninggal pada tanggal 31 Maret 2008. Menurut data yang kami terima dari Dinas Kesehatan, sejak lahir kondisi Raka sudah cukup memprihatinkan. Kemarin, sudah 10 hari Raka dirawat di RS. Soewandhi ini. Kondisinya cukup membuat miris yang menjenguknya. Tubuh mungilnya yang terbungkus kulit putih bersih tergolek lemah tak berdaya dengan ditemani oleh Ibunya, dengan lengan kanan di-infus. Kondisi Raka hanya tinggal tulang terbalut kulitnya dengan kepala yang cukup membesar. Kami sempat berbincang-bincang dengan ibunya Raka, mengenai kondisi Raka dan latar belakang keluarganya. Menurut penuturan ibunya, ayah Raka saat ini sedang bekerja di sebuah hotel, Cosmo, di daerah Surabaya. Kami juga bertanya-tanya dimana letaknya hotel tersebut.

Raka

Ada sedikit kendala, yaitu kami disana sempat dicurigai sebagai wartawan. Kami sempat diminta fotokopi kartu identitas dan kartu nama. Berhubung tidak ada yang sedia fotokopi KTP, maka kami menyerahkan kartu nama Mas Avy. Saat akan berpamitan pun, kami sempat diminta menuju ke kantor. Kami sempat ditanyai, siapa kami, tujuan kami, dan ijin kami. Akhirnya, Pak Gempur yang berbicara dengan pihak suster jaga, menjelaskan bahwa, kami adalah sebuah komunitas biasa dan tujuan kami baik, hanya untuk memberikan sumbangan. Karena kami tidak mengantongin ijin dari pihak berwenang dari RS. Soewandhi, maka kami diminta mengisi data.

Sebelum meninggalkan RS. Soewandhi, kami menyempatkan menyerahkan sumbangan kepada Ibunya Raka sebesar Rp. 500.000,- untuk sedikit membantu meringankan beban keluarganya. Sebetulnya masih ada satu korban gizi buruk yang ingin kami jenguk, yang berada di sebelah Raka. Akan tetapi, karena Ibunya tidak ada di tempat, kami menunda niat tersebut.

Laporan dana selengkapnya menyusul.

Semoga pada aksi-aksi sosial berikutnya, akan lebih banyak lagi teman-teman yang bisa hadir dan turut berpartisipasi dalam acara ini.

nb : mohon maaf foto saya ambil dari blog Pak Gempur, karena saat berita ini ditulis saya tidak bisa akses web nya mas Avy dimana semua foto disimpan disana.

diambil dari copy paste laporan yang saya tulis untuk TuguPahlawan.com


Jujur saja, saya miris sekali melihat kondisi Raka. Belum lagi si Ibu yang tak tahu pasti kerja si Bapak dimana. Saya pikir, Raka jika sudah sembuh pasti bakal ganteng, habisnya kulitnya putih gitu. Ah….. saya jadi malu sendiri. Begitu banyak di luar sana yang butuh uluran tangan kita, tapi kita masih asyik dengan kehidupan kita sendiri. Terlalu terpuruk mengeluh dan mengeluh. Bangun pagi, sudah ada nasi lengkap dengan lauk pauk di meja makan pun, kita masih mengeluh karena tidka sesuai dengan keinginan kita. Tapi lihatlah kondisi di atas, Raka yang sejak lahir sudah harus merasakan sakitnya jarum suntik dengan tubuh yang tulang terbalut kulit.

Raka, jangan menyerah ya….
Kamu harus berjuang dengan segenap hati dan jiwa
Rafa sudah menghadap Allah terlebih dahulu
Kamu harus lebih kuat
Biar nanti bisa bantu Bapak dan Ibu,
bisa bermain dengan teman-teman, ya……
Bisa menyongsong masa depan yang lebih baik, sayang…

Maafkan kami….
Tak mampu kami memelukmu
Takut pelukan sayang kami padamu,
akan membuatmu lebih menderita, Raka….
Hanya sentuhan lembut pada kulitmu
untuk menunjukkan kami ada untukmu

Berjuanglah, Raka…..
Kami percaya setiap detik
yang Allah anugerahkan padamu
adalah sangat berharga…

Kami akan selalu mendoakan dan mendukung kamu……
Berjuanglah, Raka….

nb : foto-foto lain bisa dilihat disini.

My Note : Tulisan ini bukan bermaksud mendeskreditkan ataupun mengeksploitasi pihak-pihak tertentu. Hanya uluran tangan dari sesama manusia dan berniat membantu, itu saja. JIka ada teman-teman, baik blogger ataupun komunitas apapun, berniat membantu baik materi maupun moril bisa hubungi saya melalui japri atau silahkan lihat di halaman ini atau langusng di halaman TPC berikut ini.

April 13, 2008

motivasi…

Posted in Journal at 8:36 am by justrere

Beberapa hari lalu, masih males-malesan mengerjakan TA seperti beberapa bulan lalu. Akhirnya melakukan analisa terhadap diri sendiri. Sampailah pada suatu kesimpulan, bahwa ternyata saya cuma takut dan bimbang nanti setelah semua urusan perkuliahan akan selesai, saya tak tahu akan melakukan apa. Tak tahu akan melangkah kemana. Akhirnya, sempat mengobrol dengan salah seorang teman, Aunty, dia bilang bahwa dulu dia juga begitu, temannya juga begitu. Semua itu adalah proses yang wajar. Cuma ketakutan meninggalkan fase dan akan masuk ke fase yang baru. Toh, sekarang, nanti akan terjadi juga.

Lalu, kemarin sempat sms an dengan My Pandora Girl, Ndutty, dia bilang gini, “apapun yang kamu lakukan nanti, bukankah harus ada 1 syarat yang kamu lalui dulu?”. Honestly, jadi mikir…. Apa yah? Dia melanjutkan, “kamu mesti lulus dulu kan? percuma mikir dan takut ntar mau ngapain, mau kemana, kalo syarat utama yaitu lulus, enggak kamu selesaikan dulu?” Dueng!! Dia ‘menampar’ saya lagi, seperti yang biasa dia lakukan 😛

Yup, akhirnya dapet charge energi dari sahabat-sahabat saya. Belum lagi suntikan energi dari beberapa temen blogger yang menyindir-nyindir, hehehehehehe, especially, upik abu yang manja, khuclukz yang sabar 😛 , sampe manusia piktor satu ini 🙂

So, bantu gue doa ma motivasi yahz……. 🙂 Ganbatte!! CiaYo!! *hehehehehe, dalam rangka menyemangati diri sendiri*

April 11, 2008

terpendam rindu,,,

Posted in Poem, Prosa at 10:06 am by justrere


malam semakin larut
hanya gelap terbentang
tak ada bintang bertaburan
seperti bayangan dirimu,
yang menghilang dari hari-hariku

biasanya di saat seperti ini,
hanya suaramu yang menemaniku
canda, cerita hingga ngambek
sampai kita berdua terlelap

hanya bisa memandangmu
dari layar ponsel ini
di benak ini cuma ada dirimu
DIRIMU, DIRIMU, dan hanya KAMU seorang

air mata mulai mengalir
terisak di pinggir malam
terasa semakin sesak hatiku
menahan rindu yang ada
terbawa oleh kabut sisa hujan malam ini

Aku benar-benar RINDU padamu, beib…

– Didedikasikan untuk dirinya yang sedang merindunya. terima kasih atas inspirasinya, maaf tak bisa melakukan apapun malam itu, kecuali memelukmu. ini buat kamu, jangan berhenti berjuang demi asa kalian, ya… –

Next page