June 19, 2008

Memacu Kreatifitas Menulis

Posted in Thought's Box at 8:52 am by justrere

Suka atau hobi menulis? Hmm, saya sebenarnya tidak terlalu tahu kalo akhirnya suka menulis 🙂 Sejak kecil, lebih suka menuangkan dalam bentuk puisi, apalagi saat hati tidak tenang. Saya ingat jaman-jaman SMP, SMA punya buku diary ada gemboknya pula, hehehehe 😛 Emang sapa juga mo mencuri? 😛 Dulu soalnya my lil bro usil banget, mau tau ajah yang ditulis ma kakaknya ini 🙂 Dan, akhirnya kuncinya hilang, walhasil enggak bisa dibuka buat ditulis ato dibaca, hehehehe :mrgreen:

Read the rest of this entry »

Advertisements

June 18, 2008

Do You Believe in Zodiac?

Posted in Journal, Thought's Box at 3:50 pm by justrere

June 18, 2008

Scorpio (10/23-11/21)

Your day might get started off on the wrong foot, but you shouldn’t let that discourage you! Grab some of that inner strength of yours, and remind yourself that every new hour could bring new good things. Positive thinking can create real results, especially right now — the universe is looking for cues from you. So if you’re waiting for that certain someone to call, just keep believing that they will. If you don’t know something for certain, why choose to think the worst?

Read the rest of this entry »

June 13, 2008

Arigato… for you…

Posted in Journal, Thought's Box at 8:49 am by justrere

It’s for you, yeah…. it’s you…. (niru kamu, sist ^^)

Pertama kali bertemu dengannya, lewat sebuah milist. Ketika gue mo tukeran link blog dengan member lainnya. dan akhirnya dia mulai berceloteh. Tanya-tanya gimana caranya nge-blog. Maklum di kantornya, beberapa hosting penyedia fasilitas blogging di block ma kantornya 😛 Trus, pertemuan aneh ini dilanjutkan dengan kegiatan NoBar (Nonton Bareng) di SuTos, Surabaya Town Square. Waktu itu siy, gara-gara gue bikin gathering milist CitaCinta Surabaya. Waktu pertama liat dia, udah tau ini yang namanya L**A (daripada ntar dia tambah parah narsisnya, gue samarin ajah, wakakakaka 😛 )

Read the rest of this entry »

April 26, 2008

Indah Pada Waktunya

Posted in Thought's Box at 4:33 am by justrere

Setiap manusia pasti memiliki mimpi masing-masing yang ingin diwujudkan menjadi nyata. Termasuk mimpi tentang hidup bersama dengan orang yang disayanginya, hingga maut memisahkan. Mungkin akan terdengar melankolis, tapi sejatinya itulah yang kita inginkan sebagai manusia yang dianugerahi dengan cinta, bukan? Mungkin banyak diantara kita yang saat ini sudah memiliki calon pendamping hidup, dan tinggal beberapa langkah lagi mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Kita dan dirinya, calon pasangan hidup kita, sudah merencanakan sebaik mungkin untuk mewujudkan mimpi itu. Berbagai rencana dari A hingga Z telah dirancang demi kesempurnaan mimpi kita. Di tengah jalan, tiba-tiba orang tua kurang sependapat dengan jalan yang kita tempuh dalam mewujudkan mimpi. Mereka bukan tidak setuju dengan mimpi kita, tapi kurang setuju dengan proses yang kita pilih. Saat itu kita rasanya marah, kecewa, semua perasaan sedih berkecamuk di hati. Begitu banyak pertanyaan “kenapa”, “mengapa” berada dalam kepala, saling sahut-menyahut tanpa ada jawaban yang memuaskan. Di sisi lain, kita yakin dengan proses yang kita pilih, tapi juga tak bisa acuh dengan orang tua kita. Kenapa keadaan tidak memihak pada kita, padahal dulu keadaan begitu mendukung mimpi ini. Kita mulai mempertanyakan dimana keadilan Tuhan bagi umatNya. Mulai ragu, apakah Tuhan ada disana untuk mendengarkan pinta pada hambaNya.

Seiring dengan berjalannya waktu, mendung perlahan mulai tergantikan dengan awan cerah. Mulai ada jalan untuk kompromi antara kita dengan orang tua dan keadaan sekitar. Kita mulai bisa melihat dalam kabut tipis yang masih menyelimuti perjalanan ini. Tapi kita tahu, bahwa kita khilaf, sudah berprasangka buruk terhadap Tuhan. Ternyata Tuhan mendengar semua pinta kita. Hanya Tuhan masih menunggu, menunggu kesiapan kita untuk menerima lebih banyak lagi anugerah dan nikmatNya. Mungkin kemarin Tuhan melihat dari atas sana, kita masih belum pantas untuk menerima semua mimpi kita. Dan Tuhan yang paling tahu kapan waktunya kita siap menerima ini semua dan hanya Tuhan yang tahu apa yang paling kita butuhkan bukan saja kita inginkan sementara saja. Karena Tuhan akan menjadikannya indah semua nikmat dan anugerahNya ketika tiba saatnya.

April 24, 2008

Mendapat Hati dan Kepercayaan dari Orang Lain

Posted in Thought's Box at 3:37 pm by justrere

Pernah mendengar ungkapan bahwa mendapatkan sesuatu jauh lebih mudah daripada menjaganya? Bagi saya pribadi, sebenarnya sama saja, hanya tantangan yang ada berbeda. Begitu pula dengan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Pagi ini, seorang teman mencoba meminta ijin kepada orang tuanya untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Dia ingin mengikuti kegiatan dengan komunitasnya yang kebetulan diadakan di luar kota. Selain itu juga untuk menemui pujaan hatinya 🙂 Teman saya ini kebetulan perempuan. Saat orang tuanya tidak memberi ijin, dia langsung mutung. Mutung adalah bahasa jawa dalam pergaulan, yang artinya bisa sama dengan ngambek. Membaca sms nya membuat saya sedikit tersenyum. Di umurnya yang sekitar 3 tahun di atas saya, dia masih bisa mutung ‘hanya’ karena tidak dapat ijin. Dia sempat bilang “tau gitu, gak usah bilang, langsung cabut kayak biasanya”. 🙂 Saya jadi ingat pengalaman pribadi, memang tidak mudah meminta ijin dimana posisi saya sebagai perempuan pergi ke luar kota tanpa dampingan orang kepercayaan keluarga, hanya teman-teman komunitas.

Mungkin pembelajaran tiap-tiap keluarga beda. Dulu saya pernah akan ditugaskan ke luar pulau oleh kantor, Ibu saya tidak memberi ijin, karena saya harus berangkat sendirian, padahal saya tidak kenal medannya. Tapi bagi saya tidak masalah. Tapi, karena saat itu saya tau keadaan Ibu saya, saya meminta teman kantor saya yang berangkat 🙂 Lalu kemarin, saat saya ingin ke Malang, saya mencoba meminta ijin Ibu, dengan alasan yang jujur, ingin bertemu teman dan saya perginya dengan salah satu teman laki-laki saya (bukan pacar, cuma teman 🙂 ). Seperti biasa Ibu saya akan tanya, naik apa, nginep dimana, berangkat dengan siapa, dan hal-hal lainnya. Saat itu saya memposisikan diri saya sebagai Ibu. Jika saya punya anak perempuan, dan anak saya pergi dengan orang yang tidak saya kenal dan menginap di tempat yang saya tidak tahu, tentunya saya juga khawatir kan? Cuma saat itu, ketika saya berbicara dengan Ibu saya, saya mencoba meyakinkan beliau, bahwa tujuan saya tidak anah-aneh. Jika tujuan kita baik, insyaAllah, hasilnya juga baik pula, kan.

Sedikit tips dari saya, ketika berbicara dengan orang tua, cobalah tatap matanya, tunjukkan lewat mata dan ekspresi anda, bahwa anda bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Dan memang tidka bisa langsung mendapat ijin. Semuanya butuh proses. Dan ketika tidka mendapatkan restu dari orang tua, jangan mutung dan marah terhadap mereka. Cobalah mengerti, mereka cuma khawatir saja. Pelan-pelan jelaskan kepada mereka tujuan anda meminta ijin dan anda harus jujur. Setiap Ibu akan memiliki insting apakah anaknya jujur atau tidak 🙂 Jelaskan pula, bahwa suatu hari kita akan menikah dan lepas dari orang tua. Perjalanan ke luar kota ini adalah bentuk pembelajaran diri menjadi lebih dewasa dan mandiri. Dan pengalaman itu akan berguna saat kita lepas dari orang tua nanti. Kalau niat kita baik, insyaAllah nantinya orang tua akan luluh juga dan memberikan ijin. Dan setelah mengantongi ijin, jangan kupa dijaga baik-baik amanah mereka. Sekali amanah mereka kita langgar, akan sulit mendapat kepercayaan mereka kembali. Dan jika tidak mendapat ijin, jangan tiba-tiba pergi begitu saja. Selain tidak mendapat restu bisa saja terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan selama perjalanan, juga membuat orang-orang di sekitar kita termasuk orang tua sangan khawatir. Dan bukan tidak mungkin orang tua akan semakin menekan kita. Jadi sebaiknya mengambil kepercayaan orang lain, terutama orang tua dengan pendekatan persuasif. Jika memang terjadi sedikit perdebatan kecil, usahakan intonasi suara tetap datar ke rendah, meski kadang hati juga sebel, tapi jangan sampai meninggi, tahan emosi, apalagi sampai ‘nyolot’, jangan sampai ya.

Mari belajar mengambil kepercayaan orang lain especially orang tua dengan cara yang lebih bijak dan menanggapi hasilnya juga dengan bijaksana dan dewasa 🙂

nb : Tulisan ini bukan bermaksud menyindir atau mendeskreditkan satu atau banyak orang. Hanya berusaha melihat dari sudut pandang yang lain, Out of The Mind, dan saling berbagi saja 🙂