September 14, 2008

Keep in Touch

Posted in HangOut, Jalan-Jalan, Makanan tagged , , , at 8:02 am by justrere

Setelah kemarin berkutat dengan praseminar dan coding-coding program, akhirnya mencoba sedikit menikmati waktu yang ada untuk refreshing 🙂 Sore itu, sambil menemani Fefe menunggu my soulmate friend, Meme, saya duduk di food court CiTO (City Of Tomorrow) Mall sambil mengobrol persiapan praseminar Meme. Sore itu food court tidak terlalu ramai, mungkin orang-orang lebih prefer buka dirumah yah 🙂

Rencananya, saya akan menemani Fefe sampai Meme selesai kerja, sekitar jam 20.00, tapi rencana berubah. Tiba-tiba Mami, salah seorang teman dari Milist CitaCinta Surabaya telepon minta BukBer aka buka bareng di Delta Plaza. Sebelumnya dia sedikit mengomel karena saya ganti nomor tanpa konfirmasi padanya [maaf, mi, lupa tidak konfirm, otak lagi penuh 😛 ]. Jarang sekali dia mengajak keluar berdua, akhirnya tawaran itu saya iyakan. Dan terpaksa mohon pengertian Fefe dan mohon maaf harus meninggalkanya dan berjanji malam itu kembali menginap di rumah Meme untuk membantunya dalam persiapan praseminarnya.

Read the rest of this entry »

March 14, 2008

Bentoya @ Tunjungan Plaza Surabaya

Posted in Makanan at 7:53 am by justrere

Menu Bentoya - By Photobucket

Beberapa waktu lalu, saya melihat promo Bentoya di Tunjungan Plaza
Karena tertarik dengan promo Buy 1 Get 1 Free dengan menggunakan BCA Credit Card, maka saya mengajak Inggit untuk mencoba di sana. Dari beberapa restoran jepang, Bentoya belum pernah saya kunjungi. Favorit saya masih Hachi-Hachi Bistro, enak dan sesuai kantong 🙂

Datang ke Bentoya TePe sekitar jam 14.00, yang terletak di Lantai 5, jalan menuju SoGo. Suasana juga tidak begitu ramai. Dari luar memang, interior yang menggunakan warna dasar ungu, Bentoya terkesan ekslusif, sehingga tidak mengherankan jika mungkin banyak orang mengira harga makanan di Bentoya tergolong mahal, termasuk saya pribadi. Saya dan Inggit memilih untuk duduk di bagian atas dengan sofa membelakangi jalan. Begitu Anda datang, Anda akan disambut dengan salam khas resto jepang, “Moshi-Moshi” secara serempak dari pelayan-pelayannya. Selanjutnya, kami segera memesan menu. Kami memesan 1 Chicken Teriyaki, 1 Mie Ramen, dan 1 Karagee Roll. Lalu untuk minumnya, kami kami memesan 1 Lemon Tea dan 1 Sprite dengan vanilla ice cream di dalamnya (saya lupa nama menunya).

Beberapa menit kemudian, pelayan mulai mengantarkan sendok dan sumpit untuk makan. Tak beberapa lama, muncul minuman kami. Saya mencoba minuman yang saya pesan, sprite dengan ice cream. Di tenggorokan terasa lebih lembut karena ada ice cream tersebut dan ditambah sensasi sodanya, benar-benar melegakan tenggorokan di waktu siang, mengingat cuaca Surabaya yang panas, meskipun kala itu hujan baru saja turun 🙂 Selanjutnya, pelayan datang dengan membawa makanan yang telah kami pesan sebelumnya.

Mie ramen disajikan dalam mangkuk setengah panas dengan ukuran cukup besar. Di dalam mie ramen, terdapat mie, beberapa potong daging ayam, sedikit sayur, dan beberapa bawang bombay dan dipenuhi kuah. Dari harumnya, tercium aroma segar, menggugah agar segera mencicipi hidangan ini selagi hangat. Kuahnya gurih, mie nya cukup kenyal dan daging ayamnya empuk, jadi tidak susah menelannya (saya punya sedikit masalah dengan per-daging-an 🙂 ). Yang menarik minat saya, terdapat lembaran-lembaran hijau di dalamnya. Saya pikir tadi itu sejenis sayur bayam (entah apakah di Jepang juga ada bayam 😛 tapi kalau ingat Popeye makan bayam, mungkin ada yah.. 😛 ). Tapi setelah saya amati dan saya rasakan kembali di lidah saya, saya jadi ragu. Teksturnya lebih lembut dari bayam, tidak ada serat yang tampak seperti pada sayur. Saya kira ini sejenis jamur, seperti jamur kuping, cuma ini berwarna hijau.

Chicken Teriyaki, disajikan di atas mangkuk yang berisi nasi 2/3 nya. Diatas nasi ada potongan ayam yang dipotong memanjang. Yang beda, ayam ini dibakar, sehingga bumbu dan aroma setelah dibakar terasa sekali. Beda dari Chicken Teriyaki yang pernah saya makan sebelumnya. Selain itu, juga terdapat telur dadar yang diparut menyerupai keju, cukup unik.

Ketika kami sedang menikmati menu utama tadi, pesanan kami yang terakhir, Karagee Roll, datang juga. 1 porsi Karagee Roll berisi 8 roll. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, di bawah Rp. 20.000,-. Yang saya suka dari aktivitas makan di resto jepang adalah menu-menu seperti ini. Karena rasanya benar-benar beda, berasa jepang banget 🙂 Kalau Chicken Teriyaki mungkin lebih ke arah Western Food. Menu Mie Ramen yang saya pesan juga unik, karena saya belum pernah mencicipi sebelumnya. Entah bagaimana rasa Mie Ramen dan Karagee Roll di negara aslinya 🙂 Harga yang dibandrol untuk menu-menu utama tadi masih terjangkau, rata-rata kurang dari Rp. 40.000,- apalagi dengan porsi yang sangat mengenyangkan. Bagi yang hobi makan di resto jepang, silahkan mencoba 🙂

Rere and Inggit - By Photobucket

February 29, 2008

Bakso Keliling Pak Djo

Posted in Makanan at 7:30 am by justrere

 

Kamis kemarin, 28 Februari 2008, diajakin ke rumah Chubby, salah satu temen kampus, yang juga ponakanku 😛 (Ini silsilah dari Hima STTS yang akhirnya menjadi keluarga besar 😀 ). Rencanya bukan buat makan bakso. Tapi waktu asyik nonton pilem, tiba ada suara “tok…tok…”. Suara khas dari bambu kecil yang dipukul oleh penjualnya, menandakan dia tengah menjajakan baksonya. Karena tergiur, akhirnya dipanggil lah bakso tersebut. Pertamanya, aku pikir ini pasti bakso seperti biasa, enggak ada istimewanya.

Karena enggak terlalu lapar, karena udah nyemil gorengan yang dibelikan ma Ai (Artinya : Tante, Mamanya Chubby) 😛 Aku pesen bakso campur kecuali tahu, enggak doyan soalnya 😛 dan tanpa kuah. Chubby ma Ai pesen lengkap. Enggak ketinggalan saos dan sambalnya.

 

Waktu gigitan pertama…… Hmmmm, kuakui emang beda. Kalo bakso di tempat lain, enggak sepenuhnya daging, ada campurannya (mungkin…). Tapi ini rasanya beda. Untuk bakso halusnya, bener-bener halus, dan rasanya daging banget 🙂 Waktu makan bakso Pak Djo ini, jadi inget dulu suka banget makan Bakso Solo, waktu masih kecil tinggal di Situbondo (Sedikit aneh, namanya bakso solo, kok adanya di Situbondo, hehehehe 😛 ). Lalu bakso kasarnya, seratnya enggak terlalu banyak, yang bisa bikin nyangkut dimana-mana 😛 , jadi buatku udah pas 🙂 Then, ada siomay. Favoritnya Chubby adalah siomay ini. Enggak seperti siomay di tempat lain, dari semua yang pernah aku makan porsi kulit dan isi siomay adalah banyakan kulitnya, sedikit yang perbandingan kulit sama dengan isi siomay itu sendiri. Tapi siomay ini malah isi siomay jauh lebih banyak daripada kulitnya, jadi enggak terlalu kenyal 🙂 Ada juga gorengannya. Yah, kalo yang ini rasanya biasa ajah, mugkin karena aku dah kekenyangan, hehehehe 😛

Di gerobak bakso kelililing Pak Djo, ada alamat di daerah manyar dan teleponnya, jadi kalo mo pesen, bisa juga. Aku sempat nyeletuk, “Loh pak, ada teleponnya juga ya?”. “Iya non, saya sendiri yang angkat 🙂 “, katanya. dalam hatiku berkata, bagus juga kalo pake HaPe kali ya… Tapi ntar malah HaPe nya nyemplung di tempat kuah, hehehehe 😛 Dan ternyata bakso keliling Pak Djo dah eksis sejak dulu, waktu Chubby masih kecil, cerita Chubby. Hebat juga pikirku, karena enggak gampang mempertahankan kualitas bakso dan bisa eksis sampai lama. Kemungkinan besar ini adalah usaha keluarga yang diturunkan ke anak cucu. Waktu menulis ini, sempat terpikir keinginan untuk melihat proses pembuatan bakso ini dari awal hingga siap dibawa keliling untuk dijual, maybe next time, kalo ada waktu lebih 🙂

Secara keseluruhan, bakso dan pelengkapnya (siomay dan gorengannya) cukup enak. Untuk masalah harga, ini yang aku enggak tahu 😛 Soalnya ditraktir, hehehe 🙂 XieXie, Ai 🙂