March 28, 2008

Cuek, Tak Peduli atau Hanya Ingin Menikmati Hidup?

Posted in just me, heart n mind at 4:09 pm by justrere

Pembicaraan ini dimulai tadi pagi, sebelum akhirnya mengungsi ke Citraland sementara waktu. Rebahan di kasur, sambil membaca buku SEFT yang katanya merupakan best seller, tapi belum sempat saya baca, hanya melihat sambil lalu. I asked my mom, “Buku sapa ini?”. “Buku dipinjami Bu Widjaja”. Dan percakapan itu pun mengalir. Mulai dari buku, worksop dan training sampai curhat Ibu tentang keluarnya beliau dari tempat prakteknya dan mencoba membuka praktek sendiri di rumah, sampe menyinggung Aunty, dan masalah ‘cermin’ dan akhirnya sikap kedua anaknya.

Beliau mulai bercerita waktu mengantarkan my Lil’Bro ke dokter kulit beberapa waktu lalu. Kebetulan, beberapa waktu sebelumnya saya menemui dokter tersebut. My mom said, “Kata dokter Ninik, kok mbaknya lebih cuek dari adiknya, bu?”. I said, “dimana letak kecuekannya?”, tanya saya bingung. Saya sadar sesadar-sadarnya, hampir semua orang bilang saya cuek. Yang saya ingin tahu, cuek dalam hal apa? Untung masalah di dalam keluarga, saya sulit berkomunikasi dengan mereka. Yang saya maksud disini adalah keluarga besar, dimana Bapak terdiri dari 12 bersaudara dan Ibu 5 bersaudara. Entahlah, rasanya saya ‘berbeda’ dengan mereka. Salah satu teman pernah mengingatkan saya beberapa tahun lalu, “Cobalah untuk mendekati mereka, berbaur dengan mereka. Jangan meminta mereka untuk mengerti dirimu, tapi kamu yang coba mengerti mereka”. Ya, dan saya berusaha. Cuma sering kali saya hanya diam, sibuk dengan pikiran saya sendiri. Apakah jika demikian saya bisa dikategorikan cuek, enggak peduli? Saya memang bawel seperti katanya, tapi enggak jarang saya jadi pendiam. Apakah jika demikian saya ada masalah? ada beban? Tidak selalu. Apakah dengan diam, saya bukan ‘saya’ yang sebenarnya? Tidak juga. Ya, saya memang kompleks dan memusingkan orang-orang di sekitar saya. Saya tidak menuntut mereka mengerti saya. Sebaliknya, saya berusaha mengerti mereka, dan itu sedang dalam proses.

Bukannya saya diam berarti tidak peduli, tapi kadang saya bingung merangkai kata-kata yang ingin saya sampaikan kepada mereka. Saya ingat, saat saya sibuk diantara pekerjaan partime dan kuliah, terjadi sesuatu dengan Ibu di rumah. Tidak ada yang mengabarkan kepada saya tentang keadaan beliau. Seorang kerabat menelpon dan bertanya keadaan Ibu. Tentu saja saya bingung, setau saya Ibu ada dirumah dan baik-baik saja. Kerabat saya langsung menuduh saya tidak peduli dengan keluarga. Saya mencoba membela bahwa saya tidak dirumah, dan seharusnya orang rumah yang memberi kabar kepada saya. Tapi lambat laun, saya berusaha merubah sikap itu, meski tidak mudah. Saya berusaha bertanya tentang keadaan di rumah.

Lain halnya jika orang lain memberi komentar tentang penampilan saya, tentang kehidupan yang saya jalani, dan segala yang menyangkut diri saya, saya dulu cenderung tidak peduli, tidak mendengarkan mereka. Tapi, seiring berjalannya waktu, saya belajar. Mencoba mendengarkan mereka, dan mengikuti apa yang mereka sarankan. Akhirnya, pada analisa terhadap diri sendiri yang akhir-akhir ini saya lakukan, saya merasa tidak punya jati diri. Saya tidak punya keinginan, hanya mengikuti suara terbanyak. Sampai My Lil’Bro menyadarkan saya, kenapa hidup saya ‘disetir’ oleh orang lain? Jika saya tidak nyaman, kenapa hanya diam saja. Saat itulah saya seperti baru dibangunkan dari mimpi yang sendiri tak yakin saya sedang tidur atau terbangun. Saya baru sadar saya tidak tahu apa yang saya mau. Saya seperti bunglon, warna kulit berubah sesuai keberadaan saya. Saya terlalu sibuk dengan orang lain, sampai tak memperhatikan kepribadian dan jiwa saya. Bahwa saya tidak nyaman dengan keadaan sebelumnya, tapi saya tidak berani berpendapat, hanya tak ingin melukai orang yang sangat mencintai saya. Tapi, saya tidak mau seperti terus-menerus. Akhirnya, saya mencoba mengatakan apa yang ada di hati saya. Beberapa orang terdekat kaget dengan perubahan ini, ada juga yang menolak. Saya berusaha untuk kekeuh, meski terkadang tidak tega. Saya tetap mendengarkan mereka, tapi jika saya tidak nyaman, maka saya tidak akan menuruti kehendak mereka. Mereka bilang, saya egois, cuek, hanya memikirkan diri sendiri dan tidak mau dikritik. Saya mencoba berkompromi. Trauma masa lalu membuat ketidaknyamanan. Mungkin saya cuek dalam beberapa hal tertentu. Saya cuma ingin menjadi diri sendiri dan menemukan kenyamanan dengan keadaan saya.


Question for readers (Mohon dijawab) :
1. Menurut Anda, saya cuek?
2. Seberapa kadar cuek saya?