March 13, 2008

(lagi) bertemu dengan ‘cermin’ yang lain

Posted in just me, heart n mind at 1:03 am by justrere

Adakah diantara Anda yang bertemu seseorang yang beberapa bagian hidup atau sifat Anda mirip bahkan sangat mirip dengan orang yang Anda temui? Ini lebih dari sekadar kesamaan hobi semata. Mungkin Anda akan menjawab, “pernah sih”, atau “kayaknya pernah deh”. Tapi bagaimana jika saya bertanya, “Apakah Anda pernah bertemu dengan ‘cermin’ Anda, lebih dari satu kali?” Maksud saya disini, Anda bertemu dengan ‘cermin’ yang berbeda-beda. Mungkin, enggak banyak yang akan menjawab “hmmm, pernah” atau semacamnya. Tapi saya pernah, dan lebih dari 3 kali, malah. Mungkin bagi orang lain, ini aneh. Bagi saya saat pertama kali bertemu ‘cermin’ saya, sedikit merasa aneh. Lalu, ada sebuah film yang saya tonton (saya lupa judulnya) :

Setiap manusia dilahirkan ke dunia karena suatu tujuan dan alasan

Sejak itu, saya jadi percaya, bahwa pertemuan saya dengan ‘cermin’ tersebut, pasti ada rencanaNYA dan ada alasannya. Sampai beberapa kali saya bertemu dengan ‘cermin’ yang berbeda, saya jadi sadar apa yang Tuhan kehendaki dari saya, seperti mengerti keinginan Tuhan terhadap saya. Tuhan ingin membantu saya memperbaiki beberapa sifat saya yang (mungkin) lebih banyak merugikan diri saya sendiri. Mulai dari bertemu seseorang yang sama dari zodiak, ternyata kami memiliki banyak persamaan. Suka hal-hal bersifat spontan, lebih suka pekerjaan di luar yang menuntut banyak mobilisasi, dan sama-sama menyayangi sabahat baik kami dengan amat sangat. Mungkin jika kami berjenis kelamin laki-laki, akan muncul bahwa kami gay, Thanks God, We’re beatiful girl!🙂 Kami sama-sama posesif pada sahabat kami, sama-sama bisa mengorbankan APAPUN demi sabahat baik kami tadi. Sampai akhirnya, hubungan dengan sabahat kami harus berakhir. Setiap awal pasti ada akhirnya, kan. Padahal kami telah begitu menyayangi dan selalu bersama dengan sahabat kami. Dan akhir itu tidak indah. Kami sama-sama terpuruk, terpukul. Tak lagi percaya arti sebuah persahabatan. Hubungan saya dan dia bukan kami artikan sahabat, tapi soulmate friend🙂 Dari situ saya belajar untuk tidak terlalu sayang pada sahabat atau orang-orang terdekat. Tapi, sayangnya saya terperosok lagi😦 Yaitu saat bertemu ‘cermin’ saya yang kedua. Ini paling parah. Saya korbankan APAPUN padanya. SEMUANYA. Melihat background saya yang merupakan anak ‘tunggal’ sementara, karena adik laki-laki saya kuliah di luar kota. Jadi begitu bertemu ‘cermin’ yang semuanya (sepertinya) punya vagina, berasa memiliki suadara perempuan. Beberapa teman dan keluarga telah coba memperingatkan karena beberapa sikap dia di masa lalu. Tapi saya cuek. ‘Cermin’ saya dengannya adalah ketidak mandirian saya dan sakit saya. Saya hidup di keluarga yang terpenuhi 98% keinginan saya, tidak pernah hidup susah, karena semua tlah tersedia di depan mata. Saat itu, saya juga punya beberapa penyakit, yang sampai harus periksa lab dan beberapa dokter spesialis untuk diagnosanya, dan ternyata sumbernya satu penyakit. Saat rasa sakit itu datang menyerang, kami biasanya sama-sama tak berdaya. Kadang pingsan, tapi yang paling parah adalah usaha membenturkan kepala ke media yang lebih keras. Jangan bayangkan seperti orang gila, tidak separah itu. Dulu saya tidak merasa hal ini berbahaya. Tapi melihatnya kumat, saya jadi tidak tega. Saya jadi tahu perasaan orang-orang di sekitar saya (karena saya cuek sekali, sehingga tidak peka). Saat itu pula, saya putuskan untuk berubah. Saya harus mandiri. Saya harus sembuh, at least tidak membenturkan kepala saya lagi. Memang tidak sepenuhnya berhasil, tapi paling tidak sangat jauh lebih baik. Mungkin inilah yang disebut Self Healing, jauh sebelum sekarang banyak dibicarakan. Kuncinya, hanaya pada kita pribadi, niat yang kuta dan percaya bahwa kita bisa melalui ini semua dan bisa sembuh. Tapi paling tidak, saya jadi lebih tidak manja. Penyakit itu juga mulai jarang-jarang muncul. Sayang, hubungan saya dengannya diakhiri dengan hal yang tidak enak, gara-gara sikap posesif saya, dan kemanjaan dia. Tapi dari sini saya belajar ilmu yang paling susah, yaitu ilmu ikhlas. Mengikhlaskan semuanya yang saya miliki, baik yang terlihat atau pun tidak. Mulai harta benda, hingga tubuh dan ruh ini. Ada seseorang lelaki (yang saya temukan di dunia per-blogging-an🙂 ), mengatakan pada saya


Re, ikhlasin semua. Semua akan kembali ke Allah SWT. Baik harta, orang tua, suami, anak, wajah, dan jiwa ini hanya milikNYA semata. Dia pemilik semuanya. Anggap lah kita sebagai tukang parkir. Ada bermacam-macam mobil yang parkir dan menjadi tanggung jawab kita. Lalu saat yang punya mobil datang dan mengambinya pergi, kita bisa apa? Semua ini milikNYA, dan hanya dititipkan sementara pada kita. Ujian bagi kita, apakah bisa menjaga amanahNYA atau tidak. Dan kita wajib mempertanggung jawabkan semuanya baik di dunia dan akhirat

Mungkin selama ini saya lalai. Bahwa semua ini adalah milikNYA semata. Saya begitu kecil dan tak memiliki apapun di hadapanNYA. Jika demikian, mengapa saya begitu sombong selama ini??? Saat itu, saya juga belajar ikhlas. Tapi masih konsep ikhlas yang salah (menurut saya sih). Karena sejak saat itu, jika saya kehilangan seseorang atau kehilangan apapun, tak ada rasa menyesal. Karena mengingat semua kembali padaNYA. Sampai akhirnya saya tidak punya rasa takut kehilangan akan seseorang yang saya sayang. Bagi saya itu sudah enggak benar.

Lalu, saya bertemu dengan seseorang yang memiliki ‘cermin’ untuk menarik orang ke arah kita untuk menceritakan masalahnya. Yup, saya bisa melakukannya, tapi dulu tak sepenuhnya menyadari, mungkin hanya kebetulan semata. Padahal sampai sekarang, sudah berkali-kali saya melakukannya (mungkin kapan-kapan saya menulisnya🙂 ) Bedanya, dia yang menarik saya. Saya dulu tak percaya. Lagipula jika saya terbuka menceritakan masalah saya, mau tak mau saya jadi dekat. Dan suatu saat akan kembali sakit hati, jika dia pergi. Tapi memang sudah jalannya, saya akhirnya ‘membuka’ diri. Meskipun banyak teman saya, tapi mereka saya adalah pribadi yang selalu ceria, hampir tidak punya masalah. Tapi, saya memang sedikit tertutup. Bagi saya, yang harus dibagi adalah hal-hal kegembiraan. Tapi, saya tahu keegoisan saya itu salah. Saya jadi belajar bagaimana berbagi dengan orang lain, belajar lebih terbuka dengan orang lain. Dan sekali lagi, hubungan ini terputus dengan cara yang tidak indah. Tiba-tiba ada masalah yang jujur saja, saya juga bingung. Dan akhirnya dia memilih pindah kerja di Jakarta. Itu cukup membuat saya shock. Bagi saya dia adalah kakak perempuan yang saya punya. Saat dia berkata, “Re, aku bukan kakakmu lagi!”, sudah membuat saya terpana, kaget, semua campur jadi satu. Dulu sampai berpikir dia pergi karena marah pada saya. Setelah dia pergi, saya sudah tak percaya apapun dan siapapun kecuali Tuhan. Satu tahun berlalu. Tiba-tiba saat dia kembali ke Surabaya, saya tidak sengaja buka HaPe CDMA saya. Masih ada 1 folder berisi sms-sms dia yang cukup berkesan. Isinya, mengingatkan saya buat enggak telat makan agar maag saya tidak kambuh, mengingatkan sholat, menyemangati saya saat dirundung masalah. Tiba-tiba saya ingin menangis, mengingat itu semua. Saya langsung sms dia, yang waktu itu sedang perjalanan balik ke Jakarta. Dia hanya bilang “Re, aku enggak berubah. Kalo kamu enggak gini kan, gak bakal berubah jadi dewasa, kan? Aku tetep sayang kamu, kok🙂 “. Rasanya speechless banget. Mungkin dulu dia marah banget, sampe saya tidak berani menghubungi lebih dulu hingga satu lamanya. Rasanya bahagia kala itu tak terlukiskan, mendapatkan kakak yang dulu sempat hilang, yang hanya bisa saya impikan. Pada suatu kesempatan, saya mulai tanya kenapa dia marah, apa kesalahan saya. Dia memilih untuk tidak menjawabnya sekarang, karena dia masih di tahap recovery. Kalo dulu saya tidak sabaran, tapi sekarang keadaan sudah berubah. Saya hanya menjawab, “Aku sudah menunggu selama satu tahun, masa tidak mampu menunggu lagi?🙂 “. Saya sekarang jadi bisa mensyukuri keberadaannya. Kadang saya bertanya apakah saya harus kehilangan orang lain dulu, sampai saya mampu mensyukuri keberadaannya? Saya harap tidak, karena saya sudah mendapatkan pelajaran berharga.

‘Cermin’ saya yang berikutnya karena persamaan sifat pasangan kita. Saat itu kita sama-sama punya masalah dengan pasangan kita. Kebetulan pasangan saya saat itu berzodiak sama dengan dia. Saya bukannya percaya dan ketergantungan dengan zodiak. Hanya, saya mempunyai ketertarikan yang sangat membaca dan mempelajari karakter seseorang, yang diawali dari zodiak dan akan merembet ke latar belakang dan lingkungannya. Tapi sifat dia malah tidak sama dengan pasangan saya. Persamaan mereka hanya romantis dan sensitif. Lainnya, dia malah mirip saya, padahal zodiak kita beda! Sama-sama doyan kupi, moody banget. Akhirnya dari pertemuan dengannya, saya belajar menghargai pasangan saya (meski akhirnya harus berakhir), belajar mengontrol sifat moody, yang banyak merugikan orang-orang di sekitar kami. Hubungan saya dengannya juga hampir berakhir. Saat itu saya merasa ‘tugas’ saya sudah selesai (tugas ini akan saya jelaskan pada tulisan lain, semoga saja🙂 ). Saya mencoba jujur, dan dia marah sekali. Saat itu dia menimpali, “Kamu pikir aku apa? Seenaknya aja ninggalin gitu aja. Emang kamu pikir kita berteman gitu aja? Tugas apa? Aku enggak mau. Pokoknya kita tetep temenan!”. Saya kaget sekaligus gembira, ternyata dia enggak mau saya pergi. Saat saya mebaca blog nya, saya kaget. Ada seseorang yang dia takuti, dan gara-gara orang tersebut, hidupnya dan hidup keluarganya pernah tidak menyenangkan. Sejak saat itu, saya bilang ke dia, “Nyil (panggilan saya untuknya), kalo dia dateng lagi, dan melakukan hal-hal gak enak, kamu bilang ajah. Aku gak suka dan enggak mungkin diem ajah, kamu ma mama diperlakukan kayak gitu”. Sejak saat itu, hubungan kami baik-baik saja🙂

Dan yang terakhir, ‘cermin’ ini dipertemukan denganku di salah komunitas yang saya ikuti. Pertama kali melihatnya, masih belum tahu. Setelah mengobrol dan menganalisa sedikit kepribadian tentang dirinya, mulai memberanikan diri untuk sedikit masuk dalam hidupnya. Saya pikir dia tidak akan begitu kaget. Tapi ternyata, dia malah menebak saya sebagai mindreader🙂 Sayangnya, saya belum tahap itu, juga tidak berminat membaca isi kepala manusia lain, membuat hidup tidak penuh kejutan lagi🙂 Dan, sedikit demi sedikit, mulai terkuak apa yang yang dia sembunyikan dari orang banyak dan bagaimana isi hati yang sebenarnya. Dan kali ini, saya benar-benar bersyukur pada Allah SWT, karena telah membuat pertemuan ini. Ini adalah salah caraNYA menunjukkan bahwa DIA sangat mencintai saya. Saat saya dan juga dirinya galau karena ketakutan kita akan kesendirian karena masa lalu kami masing-masing, kami menerima anugrah ini. Saya merasa ini lebih cepat dari dugaan saya. Setelah tahun kemarin saya mendapat anugrah karena bertemu orang yang akhirnya ‘membuka’ jalan pikiran saya, benar-benar berpikir Out Of The Mind dan berusaha melihat dunia dari dimensi yang berbeda dari manusia kebanyakan, agar saya menjadi seseorang yang lebih baik. Saya bersyukur, saat saya mulai merasa kehilangan arah dan seperti menggapai asa sendiri, Tuhan memberikan tanganNYA, dan menunjukkan bahwa DIA tak pernah tidur ataupun lalai dalam menjaga dan mencintai makhlukNYA sepenuh hati. Satu yang mungkin harus saya ingat kembali :


Nikmat mana lagi yang kau dustakan
(AlQur’an)

Kira-kira demikian (saya agak lupa persisnya), salah satu firmanNYA dalam AlQur’an. Kadang kita lupa, bahwa nikmatNYA bukan hanya harta benda melimpah, kekuasaan, tapi ketenangan dan kedamaian hati adalah salah bentuk nikmat yang tak ternilai. Bayangkan jika kita hidup dalam ketakutan, tanpa tempat mengadu, pasti jiwa dan hati kita takkan tenang, bisa-bisa kita malah kehilangan kontrol diri.

Dulu saya mengira ‘cermin’ sebagai bentuk ancaman, tapi saya sekarang bersyukur. Inilah tanda bahwa DIA sangat mencintai saya dan tidak pernah meninggalkan saya, bahkan tidak sedetik pun.

Buat semua ‘cermin-cermin’ku, terima kasih telah mau berbagi, mau membuka diri, dan akhirnya belajar sesuatu dan mengambil hikmah dari pertemuan kita. Semoga apapun yang terjadi, pada akhirnya kita bisa menjadi insan yang jauh lebih baik lagi, baik sekarang, esok, dan sampai kapan pun di antara orang-orang yang kita sayangi dan di hadapanNYA.

*Baru sadar kalo postingan ini cukup panjang, tertular virus dari Aunty🙂 Termasuk gaya menulis bentuk cerita (cerpen atau novel) dengan percakapan langsung🙂 *

10 Comments »

  1. fahmi! said,

    aduh re, paragrafnya panjang2, dipotong pendek2 gih. kurang ergonomik buat dibaca tengah malem gini. motoku wes sepet😦

    sorry belom baca postingnya wes komen disek. besok pagi tak mbalik sini, tak bacae lagi, hehe😀

  2. aRuL said,

    *Nikmat mana lagi yang kau dustakan”
    gue banget….
    itu blogger siapa? mm kayaknya kenal yah?😛

  3. jeunglala said,

    ‘Cermin’ membantu kita untuk belajar berubah…. bagus tuh, Re. Karena seringkali, kita nggak merasa sudah melakukan self destruction tapi nggak sadar *apalagi yang nggak peka kayak kamu ini..hehe* Begitu ada cermin, kita bisa melihat diri kita sendiri dan bagaimana seandainya kita menjadi orang lain yang selama ini mungkin khawatir. Atau baru menyadari betapa ‘kacaunya’ kita sampai kita melihat diri kita sendiri.
    Hmmm… jadi ingat sama kisah pribadi ^_^
    Dulu pernah ketemu juga sama cermin, tapi lari bareng-bareng.
    Sekarang.. ketemu cermin lagi, pinginnya sih stay aja… nggak pingin lari lagi… capek ternyata🙂

  4. V66 said,

    Kangen ama Ana Re….hiihihihi
    “belajar mengontrol sifat moody” ini mah gak hanya dngan pasangan kamu aja Re, tapi kita waktu jalan berempat 2 taun yang lalu dengan sangat-sangat merasakan ke moody-an kamu. Sampe-sampe kita bertiga mendiskusikannya di mobil hehehehe.
    Tapi memang sudah berubah beda, semenjak kamu di Coffee Toffee

    hmmm panjang juga ya….

  5. Chubby said,

    Wew…tanteku cayank….! panjang banget blognya…untuk ponakan tante yang cantik dan imut ini ga baca pas malem2….kalo baca pas malem2 ntar isa ketiduran di depan laptop deh. hehehehe….

    Hm, buat ponakan yang radarnya krg peka ini rasae kok sulit yah menemukan cermin2 di sekitar….hehehe…kalo ketemu cermin jadine malah ketokan ketemu saudara kembar malah jadi makin klop…wekekeke…bahaya bahaya… =p

  6. pink said,

    komen dulu baru baca. hehe

  7. fauzansigma said,

    sumpah! blog ini tidak cocok utk para FASTREADER!

  8. mbahsangkil said,

    wah rere…… mana paragraphnyaaaaaaaaaaaaaaa

    tapi bagaimanapun saya sudah senang di kunjungi rere, bisa makan bareng rere walau dengan 1000 lirikan penuh hujatan dari teman-teman wakakakakakkaa

    *siap-siap di demo cempluks cs nih hahahahaha*

  9. risdania said,

    wah wah wah,,panjang juga yah ceritanya,,
    aq ,masuk cermin yang mana mb?hehehe
    >> ge er mode on

    klo buat aq siy mb,,pinter2 misahin mana yang bisa di ceritain ama temen,,mana yang enggak,,
    kadang ama sodara aja bisa berantem,,apalagi ama temen,,

    tp aq juga udah pernah ngalamin ninggalin sahabat yang awalnya soulmate banget,,

    qm ney typenya yang care banget,,itu yang bikin banyak orang jadi gampang deket ma qm mb,,jangan dipandang ini jadi kekurangan,,care itu bagus kok,,heheh
    jangan panjang2 ah,,ntar yang baca ngantuk lagi,,

  10. […] prakteknya dan mencoba membuka praktek sendiri di rumah, sampe menyinggung Aunty, dan masalah ‘cermin’ dan akhirnya sikap kedua […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: