March 11, 2008

Ketika ketakutan merasuki kalbu,,,

Posted in just me, heart n mind at 6:48 am by justrere

Dia akhirnya mengaku padaku. Setelah cukup lama melakukan denial. Hari itu dia datang padaku. Bertanya, “apakah kamu merasa takut?”. “Ya pernah lah. Setiap orang pasti pernah merasa takut di dalam hidupnya”, jawabku. Akhirnya dia memutuskan untuk cerita saat itu juga.

“Aku tahu, kalo takut itu emang hal yang wajar dalam diri manusia. Tapi apa yang aku alami ini udah berlebihan sepertinya” , dia mulai mencurahkan kegalauannya.
“Berlebihan, gimana?”, selaku padanya
“Makanya dengerin aku selesai dulu, baru, komentar yah”, balasnya
Aku pun hanya membalas dengan anggukan.

Akhirnya dia melanjutkan cerita. “Aku tuh orangnya kan parnoan, kamu juga tahu. Suka mikir yang aneh. Nah, akhir-akhir ini ketakutan yang aku alami semakin menjadi-jadi. Kalo dulu aku cuma takut saat di rumah sakit”, jelasnya.
“Emang rumah sakitnya angker ta?”, tanyaku.
“Makanya dengerin, dodol! Orang masih cerita, kamu sela-sela mulu. Kapan selesainya!”, jawabnya dengan muka sewot.
“Maapppphhhhh, namanya juga kebiasaan… “, balasku dengan muka tanpa rasa bersalah.

“Bukan karena berhantu. Aku juga enggak tahu. Setiap masuk rumah sakit selalu gitu. Mungkin karena aku parno dulu, mikir yang aneh-aneh gitu, dan sebelumnya dah sugesti kalo aku gak bakal bisa tidur, akhirnya, kejadian. Terakhir kali waktu aku diopname, juga gitu, sama, enggak bisa tidur, malah akhirnya disuntik ma obat tidur”. Dia masih berusaha melanjutkan sesi curhat ini, “Beberapa waktu belakangan ini, aku suka gelisah, enggak tenang gitu kalo dirumah. Aku mencoba menganalisis keadaan diriku. Kamu tau sendiri, dulu aku orangnya kan sibuk banget, kuliah, praktikum, organisasi, kerja pula. Bener-bener sibuk. Sampai di rumah, dah capek dan ngantuk, alhasil langsung tidur. Apalagi aku selalu dikelilingi oleh orang-orang, sampai gak berasa sepi. Sampai akhirnya baru kerasa sekarang, saat kuliah dah kelar, cuma ngerjain tesis doang, cuma bisa dirumah ajah. Di rumah juga cuma aku ajah ma pembantu. Ma Ortu juga biasa, enggak terlalu banyak ngobrol. Dan kalo pikiran buntu dan malesku kumat, aku gak bakal nyentuh tesisku itu. Akhirnya malah pikiranku dan hatiku enggak tenang. tiba-tiba berasa aura kesendirian, bener-bener enggak nyaman deh”, jelasnya dengan pandangan menerawang.

“Lalu, darimana kamu menyimpulkan kalo kamu takut loneliness?? Kamu asal tebak ato kebawa ma suasana ajah? “, tanyaku penasaran.
“Ada yg bilang,katanya aku takut sendiri..kayaknya gitu…”, jawabnya
“Maksudku kenapa kok orang itu sampe menilai kamu seperti itu,..”, tanyaku yang masih bingung
“Ada salah satu teman dekatku, kebetulan dia psikolog gitu. Waktu itu, aku dah enggak ngerti mesti gimana. Akhirnya, setelah ngobrol ma temenku itu, dia ngambil kesimpulan bahwa aku ini sebenernya orangnya takut ma kesendirian. Waktu itu aku enggak mau percaya kata-kata dia, masih denial terus”, katanya.
“Trus kamu ngerasanya gimana?”, tanyaku padanya.
“Dulu aku emang ngeyel, bilang enggak. Tapi, sekarang gara-gara ketakutan ini, aku merenung dan kayaknya kok bener yah….”, jawabnya dengan bimbang. “Aku malah larinya maen komputer, main internet, kadang juga maen ma temen-temen kantor, ato maen ma temen-temenku yang lain. Untung ajah temenku cukup banyak, tapi, kalo dah pada sibuk semua, ya aku jalan dari mall ke mall lain, kalo ada banyak orang kayak gitu, aku jadi enggak merasa sendirian”, jelasnya lagi. “Apa aku dah ‘sakit’ yah?”, tanyanya padaku dengan wajah yang sedikit bingung.
“Sakit? Ketika kamu takut, kamu sendiri kamu bilang kamu sakit. Dah ah ga usah terlalu didramatisir. Itu hal wajar kok,.. Setiap orang pasti punya ketakutan-ketakutannya sendiri. Tergantung gimana kita mengontrolnya”, jawabku.
“Jangan mau dikendalikan takutmu,..Tapi kendalikanlah takutmu itu,.. Jadi kita sendiri yang atur,..”, jelasku padanya.
“But How?”, tanyanya bingung.
“Jangan mau diatur takut…Ya atur sendiri, aku yakin kamu cukup dewasa untuk menyingkapi masalah itu,..Pokoknya masukkanku ya yang tadi itu,.. diterima yang monggo, engga ya gapapa.. Aplikasinya,.. pikirkan sendiri, karena itu hidupmu.. So simple khan..”, jawabku sambil tersenyum padanya, berusaha memberikan kekuatan padanya.
Aku melihat binar di matanya dan senyum terukir di wajahnya. Sepertinya dia sudah sedikit mengerti, apa yang harus dia lakukan.
“Kadang aku mikir, apa ini sindrom dari aku yang sibuk, trus jadi ga terlalu sibuk.. Dulu waktu masih sekolah juga aku kan enggak terlalu sibuk kayak waktu kuliah kemarin”, tanyanya lagi.
“Jadi jangan terlalu didramatisir,.. jalanin aja,..giliran sendirian nikmati aja,.. jangan mikir yang engga2.. salurin ke hal2 yang positif. Tidur kek, blajar apa kek, atau apalah…ya yang gimana kamu enjoy ngelakuinnya, kalopun akhirnya mikir2 yang aneh2,.. habis itu pikirkhan juga cara mengcounternya,.. cara menanggulanginya biar ga kejadian,,, mau pikiran yang macem2 kamu harus bisa ngeyakinin kalo kamu bisa ngatasin itu semua,..”, jawabku.

Mata di depanku ini, semakin berbinar. Dia sudah mulai mengerti sekarang, bahwa ketakutan itu adalah hal yang wajar.
Dia kembali bertanya, “Bole tau gak,kamu pernah takut ma apa?”.
“Hmm,.. ketakutan orang itu beda2khan… ketakutanku itu banyak,.. “, jawabku.
“Apa ajah?”, tanyanya masih sedikit penasaran.
“Males ah dibahasnya,. Nah ini salah satu bentuk mindcontroll ku”, jelasku.
“Iyah, gapapa kok. Iya juga sih, kalo kita enggak ngebahasnya, kan salah satu cara enggak inget-inget ketakutan itu, kan”, jawabnya sendiri seraya tersenyum.

Siapapun pasti merasa ketakutan. Tak terkecuali. Semua tergantung dari kita sendiri, bagaimana kita meng-handle kegalauan dan ketakutan yang ada. Jauh sebelum The Secret booming dimana-mana, aku percaya salah satu kutipan di dalam Al-Qur’an, salah satu firmanNYA,

Aku sesuai dengan prasangkaan hambaKU.

So, percayalah pada diri kita sendiri, karena DIA telah menganugerahkan kita akal dan hati nurani, bahwa kita bisa melakukan segalanya. Kuncinya hanya percaya pada diri sendiri dan percaya padaNYA, akan memberikan hasil yang terbaik dari segala terbaik.


Terimakasih pada seseorang disana, meskipun terpisahkan oleh jarak, tapi masih sempat meluangkan waktu untuk berbincang-bincang denganku, dan menginspirasi tulisan ini dengan sedikit banyak moderasi dan perubahan, demi kebaikan semua pihak🙂
Dan buat seseorang disini, aku bersyukur padaNYA, karena telah mempertemukan kita, dengan caraNYA sendiri yang tak pernah kita tahu. Aku selalu percaya, bahwa setiap pertemuanku dengan orang-orang di sekelilingku karena sebuah alasan, yang mungkin hanya DIA yang tahu dan kita sebagai manusia hanya menebak-nebak alasanNYA. Semoga tebakanku akan alasan ini benar adanya, dan kita bisa mengambil hikmah tentang satu episode dalam kehidupan kita. (Tulisan tentang pertemuanku dan dirinya, menyusul dalam waktu dekat)🙂 Updated
: Tulisan ini juga aku dedikasikan buat kamu, karena aku menghargaimu. Jujur saja, tak bisa kubayangkan jika harus berada di posisimu, merasakan hal yang kamu rasa selama beberapa tahun lamanya, sampai kamu harus terus berlari dan berlari. Maaf jika cuma ini yang bisa kuberikan. Aku ingin semua orang di luar sana, yang merasakan hal yang sama denganmu, akan tergugah agar tidak terus lari menghindari kehidupan, tapi akan berani menatap kehidupan itu sendiri. Ada sebuah kutipan yang cukup bagus, diambil dari Koran Sindo,

Tidak berarti Anda akan menemukan kedamaian dengan menghindari masalah-masalah kehidupan.

Virginia Woolf (1882–1941), feminis dan novelis Inggris

Bukannya aku ingin mengeksploitasi dirimu dan menjadikannya bahan tulisan, Nop! Tapi, semua ini buat aku, kamu dan semua orang disana yang mungkin mengalami hal yang kamu rasakan, atau bahkan lebih parah. Semoga kita berdua bisa menjadi lebih baik. So, jangan lari lagi yah. Kita hadapi dan kita berjuang melawannya bersama-sama. Karena kamu enggak pernah sendiri🙂

*Ditulis saat berada di rumah Aunty PochaPocha, tengkyu dah memberikan tempat bermalam🙂 *

11 Comments »

  1. jeunglala said,

    sampai kapan kita berlari?
    …. *speechless* ….

  2. jeunglala said,

    Takut sendirian… itulah kenapa aku takut ditinggalkan.
    Takut sendirian… itulah juga kenapa aku takut akan kematian.
    Takut sendirian… mungkin itulah yang membuat aku takut kehilangan.
    Tapi:
    “Aku sesuai dengan prasangkaan hambaKu”
    sedikit banyak membuat aku sadar bahwa setiap aku ketakutan, di situlah sebenarnya proses perwujudan nyata dari ketakutan itu dimulai.
    You’re right.
    Mau sampai kapan berlari? Karena ketika kita lelah terus berhenti, masalah demi masalah yang belum pernah terselesaikan itu akan mendekati lagi… *aarrrrrggghhhhh*

  3. Jiban said,

    kalo takut, minta dianterin😀

  4. deteksi said,

    kayaknya kamu bakat jd psikolog deh re.. suka dengerin curhat trus kasih pancingan2 yg mengarah ke solusi..

    Apa yang kamu baca, tafsirkan belum tentu adalah keadaan sebenarnya🙂

  5. V66 said,

    hiii takut….

  6. Reth said,

    Afraid to be lonely..
    isn’t it common?

  7. la mendol said,

    aku takut miskin re *curhat

  8. xero said,

    semangat!!

    btw first time visit spt nya, salam

    saya suka headernya hehehe

  9. adhiwus said,

    Nice Header Design, jd pengen lihat foto km de jadi nya..

    Curhat available
    Hehheehee….

  10. 001beautifulcrazy said,

    Jangan takut .. Baby Ina selalu ada

  11. Ivan said,

    Baru baca blog ini.

    bagus-bagus isanya. Terutama cerita diatas, sedikit banyak memberi pencerahan.

    thanks atas tulisannya.
    🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: