February 29, 2008

Bakso Keliling Pak Djo

Posted in Makanan at 7:30 am by justrere

 

Kamis kemarin, 28 Februari 2008, diajakin ke rumah Chubby, salah satu temen kampus, yang juga ponakanku 😛 (Ini silsilah dari Hima STTS yang akhirnya menjadi keluarga besar 😀 ). Rencanya bukan buat makan bakso. Tapi waktu asyik nonton pilem, tiba ada suara “tok…tok…”. Suara khas dari bambu kecil yang dipukul oleh penjualnya, menandakan dia tengah menjajakan baksonya. Karena tergiur, akhirnya dipanggil lah bakso tersebut. Pertamanya, aku pikir ini pasti bakso seperti biasa, enggak ada istimewanya.

Karena enggak terlalu lapar, karena udah nyemil gorengan yang dibelikan ma Ai (Artinya : Tante, Mamanya Chubby) 😛 Aku pesen bakso campur kecuali tahu, enggak doyan soalnya 😛 dan tanpa kuah. Chubby ma Ai pesen lengkap. Enggak ketinggalan saos dan sambalnya.

 

Waktu gigitan pertama…… Hmmmm, kuakui emang beda. Kalo bakso di tempat lain, enggak sepenuhnya daging, ada campurannya (mungkin…). Tapi ini rasanya beda. Untuk bakso halusnya, bener-bener halus, dan rasanya daging banget 🙂 Waktu makan bakso Pak Djo ini, jadi inget dulu suka banget makan Bakso Solo, waktu masih kecil tinggal di Situbondo (Sedikit aneh, namanya bakso solo, kok adanya di Situbondo, hehehehe 😛 ). Lalu bakso kasarnya, seratnya enggak terlalu banyak, yang bisa bikin nyangkut dimana-mana 😛 , jadi buatku udah pas 🙂 Then, ada siomay. Favoritnya Chubby adalah siomay ini. Enggak seperti siomay di tempat lain, dari semua yang pernah aku makan porsi kulit dan isi siomay adalah banyakan kulitnya, sedikit yang perbandingan kulit sama dengan isi siomay itu sendiri. Tapi siomay ini malah isi siomay jauh lebih banyak daripada kulitnya, jadi enggak terlalu kenyal 🙂 Ada juga gorengannya. Yah, kalo yang ini rasanya biasa ajah, mugkin karena aku dah kekenyangan, hehehehe 😛

Di gerobak bakso kelililing Pak Djo, ada alamat di daerah manyar dan teleponnya, jadi kalo mo pesen, bisa juga. Aku sempat nyeletuk, “Loh pak, ada teleponnya juga ya?”. “Iya non, saya sendiri yang angkat 🙂 “, katanya. dalam hatiku berkata, bagus juga kalo pake HaPe kali ya… Tapi ntar malah HaPe nya nyemplung di tempat kuah, hehehehe 😛 Dan ternyata bakso keliling Pak Djo dah eksis sejak dulu, waktu Chubby masih kecil, cerita Chubby. Hebat juga pikirku, karena enggak gampang mempertahankan kualitas bakso dan bisa eksis sampai lama. Kemungkinan besar ini adalah usaha keluarga yang diturunkan ke anak cucu. Waktu menulis ini, sempat terpikir keinginan untuk melihat proses pembuatan bakso ini dari awal hingga siap dibawa keliling untuk dijual, maybe next time, kalo ada waktu lebih 🙂

Secara keseluruhan, bakso dan pelengkapnya (siomay dan gorengannya) cukup enak. Untuk masalah harga, ini yang aku enggak tahu 😛 Soalnya ditraktir, hehehe 🙂 XieXie, Ai 🙂

Advertisements