June 30, 2008
Why Dont You Just Listen?
Dia yang selalu jadi tumpuanku
Berbagi senang
Berbagi keluh
Dan dia lah psikologku selama ini
Malam itu,
Kami keluar berempat
Bersama yang lain
Dia juga yang mengajakku turut serta
Diantara tawanya
Disela keceriannya
Aku menatapnya
Dan mengatakan kejadian bodoh yang lalu
Reaksinya?
Tertawa!
Aku hanya menatapnya
Lalu dia menjawab sambil lalu
Aku ulangi kata-kata ku
Dan dia hanya tertawa
Hanya mampu berucap, “Ada yang lucu??”
Dan dia berlalu begitu saja
Tanpa sadar dia sudah menggores hatiku
Sampai saat ini,
Masih bertanya-tanya
Kenapa dia mesti tertawa?
Tak bisakah dia sedikit berempati?
Masih ingatkah,
Saat kamu bilang
“Sist, kamu enggak perlu aku tanya
Kamu bisa cerita kapanpun
Aku enggak tanya,
Karena ingin kamu percaya padaku”
Tapi, sekarang?
Kamu cuma tertawa!
Dan itu sakit bagiku!
Dan kau tau, masalah itu sensitif bagiku!
Meski malam itu,
Aku berusaha ngoceh
Denganmu atau dengan yang lain
Semata-mata menjaga mood orang lain
Aku enggak minta
Kamu selalu ada buat aku
Toh, beberapa minggu
Kita sudah lama tak bersama
Tapi, aku juga tak menuntut apapun
Cuma, dengarkan saja aku
Dengarkan bagai seorang sahabat
Dengarkan bagai seorang sistah
Bukan malah menertawaiku!
Dan tak ada kata maaf
yang terucap darimu



