March 15, 2008

TPC – GO BLOG CAMPAIGN

Posted in Event at 8:02 am by justrere

Go Blog Campaign merupakan sebuah ajang mengkampanyekan komunitas blogger Surabaya “Tugu Pahlawan Dot Com” kepada masyarakat. Serta sebuah ajang silahturahmi blogger se Surabaya maupun luar Surabaya. Pelaksanaan :

Tanggal : Sabtu,15 MARET 2008
Waktu : 15.00 wib
Tempat : Taman Bungkul Surabaya

Ajak blogger sebanyak banyak nya.. Akan ada pembagian stiker TPC gratis bagi rekan rekan blogger yang hadir.

Ingin mendaftar ?? Silahkan mengisi kesediaan daftar dengan mengisi kolom komentar.. disini

Terima Kasih atas perhatiannya…

nb : akan diliput oleh RADAR SURABAYA.

Sumber : TuguPahlawan.Com


So, semua blogger, apapun mesin untuk blogging (termasuk FS ato MySpace), monggo datang….. Saling tukar pikiran, tukar ide, tukar pasangan (hahahaha, yang terakhir tergantung kesepakatan :D )  See you, there!

March 14, 2008

Hanya Aku..

Posted in Poem, Prosa at 9:40 am by justrere


tega nian dirimu
perlakukan ku seperti ini
seolah tak bersisa
sekelumit kenangan yang lewat

aku yang selalu bersamamu
mendengarkan celoteh keluhmu
memberikan bahuku ‘tuk sandaran
menggengam jari jemarimu

semudah itu kau pergi
tinggalkan diriku
terpuruk meratapi kebisuan

semudah itu kau campakkan
hatiku yang menggebu padamu
tersingkir oleh asa yang menguap

kau pasti akan kembali
di pelukanku
karena hanya aku
yang mampu mencintaimu, jiwa dan raga
kau pasti akan berada
dalam genggaman hatiku lagi
karena hanya diriku
yang kau butuhkan
saat ini, dan sampai kapan pun
hanya aku yang ada dalam hati dan semua mimpimu

*Ditulis di kelas, saat mengantuk mendengarkan penjelasan bapak dosen.. Diposting menggunakan mySE K510i. Inspired by Afgan’ song, ‘Sadis’*

Bentoya @ Tunjungan Plaza Surabaya

Posted in Makanan at 7:53 am by justrere

Menu Bentoya - By Photobucket

Beberapa waktu lalu, saya melihat promo Bentoya di Tunjungan Plaza
Karena tertarik dengan promo Buy 1 Get 1 Free dengan menggunakan BCA Credit Card, maka saya mengajak Inggit untuk mencoba di sana. Dari beberapa restoran jepang, Bentoya belum pernah saya kunjungi. Favorit saya masih Hachi-Hachi Bistro, enak dan sesuai kantong :)

Datang ke Bentoya TePe sekitar jam 14.00, yang terletak di Lantai 5, jalan menuju SoGo. Suasana juga tidak begitu ramai. Dari luar memang, interior yang menggunakan warna dasar ungu, Bentoya terkesan ekslusif, sehingga tidak mengherankan jika mungkin banyak orang mengira harga makanan di Bentoya tergolong mahal, termasuk saya pribadi. Saya dan Inggit memilih untuk duduk di bagian atas dengan sofa membelakangi jalan. Begitu Anda datang, Anda akan disambut dengan salam khas resto jepang, “Moshi-Moshi” secara serempak dari pelayan-pelayannya. Selanjutnya, kami segera memesan menu. Kami memesan 1 Chicken Teriyaki, 1 Mie Ramen, dan 1 Karagee Roll. Lalu untuk minumnya, kami kami memesan 1 Lemon Tea dan 1 Sprite dengan vanilla ice cream di dalamnya (saya lupa nama menunya).

Beberapa menit kemudian, pelayan mulai mengantarkan sendok dan sumpit untuk makan. Tak beberapa lama, muncul minuman kami. Saya mencoba minuman yang saya pesan, sprite dengan ice cream. Di tenggorokan terasa lebih lembut karena ada ice cream tersebut dan ditambah sensasi sodanya, benar-benar melegakan tenggorokan di waktu siang, mengingat cuaca Surabaya yang panas, meskipun kala itu hujan baru saja turun :) Selanjutnya, pelayan datang dengan membawa makanan yang telah kami pesan sebelumnya.

Mie ramen disajikan dalam mangkuk setengah panas dengan ukuran cukup besar. Di dalam mie ramen, terdapat mie, beberapa potong daging ayam, sedikit sayur, dan beberapa bawang bombay dan dipenuhi kuah. Dari harumnya, tercium aroma segar, menggugah agar segera mencicipi hidangan ini selagi hangat. Kuahnya gurih, mie nya cukup kenyal dan daging ayamnya empuk, jadi tidak susah menelannya (saya punya sedikit masalah dengan per-daging-an :) ). Yang menarik minat saya, terdapat lembaran-lembaran hijau di dalamnya. Saya pikir tadi itu sejenis sayur bayam (entah apakah di Jepang juga ada bayam :P tapi kalau ingat Popeye makan bayam, mungkin ada yah.. :P ). Tapi setelah saya amati dan saya rasakan kembali di lidah saya, saya jadi ragu. Teksturnya lebih lembut dari bayam, tidak ada serat yang tampak seperti pada sayur. Saya kira ini sejenis jamur, seperti jamur kuping, cuma ini berwarna hijau.

Chicken Teriyaki, disajikan di atas mangkuk yang berisi nasi 2/3 nya. Diatas nasi ada potongan ayam yang dipotong memanjang. Yang beda, ayam ini dibakar, sehingga bumbu dan aroma setelah dibakar terasa sekali. Beda dari Chicken Teriyaki yang pernah saya makan sebelumnya. Selain itu, juga terdapat telur dadar yang diparut menyerupai keju, cukup unik.

Ketika kami sedang menikmati menu utama tadi, pesanan kami yang terakhir, Karagee Roll, datang juga. 1 porsi Karagee Roll berisi 8 roll. Harga yang ditawarkan pun masih terjangkau, di bawah Rp. 20.000,-. Yang saya suka dari aktivitas makan di resto jepang adalah menu-menu seperti ini. Karena rasanya benar-benar beda, berasa jepang banget :) Kalau Chicken Teriyaki mungkin lebih ke arah Western Food. Menu Mie Ramen yang saya pesan juga unik, karena saya belum pernah mencicipi sebelumnya. Entah bagaimana rasa Mie Ramen dan Karagee Roll di negara aslinya :) Harga yang dibandrol untuk menu-menu utama tadi masih terjangkau, rata-rata kurang dari Rp. 40.000,- apalagi dengan porsi yang sangat mengenyangkan. Bagi yang hobi makan di resto jepang, silahkan mencoba :)

Rere and Inggit - By Photobucket

March 13, 2008

(lagi) bertemu dengan ‘cermin’ yang lain

Posted in just me, heart n mind at 1:03 am by justrere

Adakah diantara Anda yang bertemu seseorang yang beberapa bagian hidup atau sifat Anda mirip bahkan sangat mirip dengan orang yang Anda temui? Ini lebih dari sekadar kesamaan hobi semata. Mungkin Anda akan menjawab, “pernah sih”, atau “kayaknya pernah deh”. Tapi bagaimana jika saya bertanya, “Apakah Anda pernah bertemu dengan ‘cermin’ Anda, lebih dari satu kali?” Maksud saya disini, Anda bertemu dengan ‘cermin’ yang berbeda-beda. Mungkin, enggak banyak yang akan menjawab “hmmm, pernah” atau semacamnya. Tapi saya pernah, dan lebih dari 3 kali, malah. Mungkin bagi orang lain, ini aneh. Bagi saya saat pertama kali bertemu ‘cermin’ saya, sedikit merasa aneh. Lalu, ada sebuah film yang saya tonton (saya lupa judulnya) :

Setiap manusia dilahirkan ke dunia karena suatu tujuan dan alasan

Sejak itu, saya jadi percaya, bahwa pertemuan saya dengan ‘cermin’ tersebut, pasti ada rencanaNYA dan ada alasannya. Sampai beberapa kali saya bertemu dengan ‘cermin’ yang berbeda, saya jadi sadar apa yang Tuhan kehendaki dari saya, seperti mengerti keinginan Tuhan terhadap saya. Tuhan ingin membantu saya memperbaiki beberapa sifat saya yang (mungkin) lebih banyak merugikan diri saya sendiri. Mulai dari bertemu seseorang yang sama dari zodiak, ternyata kami memiliki banyak persamaan. Suka hal-hal bersifat spontan, lebih suka pekerjaan di luar yang menuntut banyak mobilisasi, dan sama-sama menyayangi sabahat baik kami dengan amat sangat. Mungkin jika kami berjenis kelamin laki-laki, akan muncul bahwa kami gay, Thanks God, We’re beatiful girl! :) Kami sama-sama posesif pada sahabat kami, sama-sama bisa mengorbankan APAPUN demi sabahat baik kami tadi. Sampai akhirnya, hubungan dengan sabahat kami harus berakhir. Setiap awal pasti ada akhirnya, kan. Padahal kami telah begitu menyayangi dan selalu bersama dengan sahabat kami. Dan akhir itu tidak indah. Kami sama-sama terpuruk, terpukul. Tak lagi percaya arti sebuah persahabatan. Hubungan saya dan dia bukan kami artikan sahabat, tapi soulmate friend :) Dari situ saya belajar untuk tidak terlalu sayang pada sahabat atau orang-orang terdekat. Tapi, sayangnya saya terperosok lagi :( Yaitu saat bertemu ‘cermin’ saya yang kedua. Ini paling parah. Saya korbankan APAPUN padanya. SEMUANYA. Melihat background saya yang merupakan anak ‘tunggal’ sementara, karena adik laki-laki saya kuliah di luar kota. Jadi begitu bertemu ‘cermin’ yang semuanya (sepertinya) punya vagina, berasa memiliki suadara perempuan. Beberapa teman dan keluarga telah coba memperingatkan karena beberapa sikap dia di masa lalu. Tapi saya cuek. ‘Cermin’ saya dengannya adalah ketidak mandirian saya dan sakit saya. Saya hidup di keluarga yang terpenuhi 98% keinginan saya, tidak pernah hidup susah, karena semua tlah tersedia di depan mata. Saat itu, saya juga punya beberapa penyakit, yang sampai harus periksa lab dan beberapa dokter spesialis untuk diagnosanya, dan ternyata sumbernya satu penyakit. Saat rasa sakit itu datang menyerang, kami biasanya sama-sama tak berdaya. Kadang pingsan, tapi yang paling parah adalah usaha membenturkan kepala ke media yang lebih keras. Jangan bayangkan seperti orang gila, tidak separah itu. Dulu saya tidak merasa hal ini berbahaya. Tapi melihatnya kumat, saya jadi tidak tega. Saya jadi tahu perasaan orang-orang di sekitar saya (karena saya cuek sekali, sehingga tidak peka). Saat itu pula, saya putuskan untuk berubah. Saya harus mandiri. Saya harus sembuh, at least tidak membenturkan kepala saya lagi. Memang tidak sepenuhnya berhasil, tapi paling tidak sangat jauh lebih baik. Mungkin inilah yang disebut Self Healing, jauh sebelum sekarang banyak dibicarakan. Kuncinya, hanaya pada kita pribadi, niat yang kuta dan percaya bahwa kita bisa melalui ini semua dan bisa sembuh. Tapi paling tidak, saya jadi lebih tidak manja. Penyakit itu juga mulai jarang-jarang muncul. Sayang, hubungan saya dengannya diakhiri dengan hal yang tidak enak, gara-gara sikap posesif saya, dan kemanjaan dia. Tapi dari sini saya belajar ilmu yang paling susah, yaitu ilmu ikhlas. Mengikhlaskan semuanya yang saya miliki, baik yang terlihat atau pun tidak. Mulai harta benda, hingga tubuh dan ruh ini. Ada seseorang lelaki (yang saya temukan di dunia per-blogging-an :) ), mengatakan pada saya


Re, ikhlasin semua. Semua akan kembali ke Allah SWT. Baik harta, orang tua, suami, anak, wajah, dan jiwa ini hanya milikNYA semata. Dia pemilik semuanya. Anggap lah kita sebagai tukang parkir. Ada bermacam-macam mobil yang parkir dan menjadi tanggung jawab kita. Lalu saat yang punya mobil datang dan mengambinya pergi, kita bisa apa? Semua ini milikNYA, dan hanya dititipkan sementara pada kita. Ujian bagi kita, apakah bisa menjaga amanahNYA atau tidak. Dan kita wajib mempertanggung jawabkan semuanya baik di dunia dan akhirat

Mungkin selama ini saya lalai. Bahwa semua ini adalah milikNYA semata. Saya begitu kecil dan tak memiliki apapun di hadapanNYA. Jika demikian, mengapa saya begitu sombong selama ini??? Saat itu, saya juga belajar ikhlas. Tapi masih konsep ikhlas yang salah (menurut saya sih). Karena sejak saat itu, jika saya kehilangan seseorang atau kehilangan apapun, tak ada rasa menyesal. Karena mengingat semua kembali padaNYA. Sampai akhirnya saya tidak punya rasa takut kehilangan akan seseorang yang saya sayang. Bagi saya itu sudah enggak benar.

Lalu, saya bertemu dengan seseorang yang memiliki ‘cermin’ untuk menarik orang ke arah kita untuk menceritakan masalahnya. Yup, saya bisa melakukannya, tapi dulu tak sepenuhnya menyadari, mungkin hanya kebetulan semata. Padahal sampai sekarang, sudah berkali-kali saya melakukannya (mungkin kapan-kapan saya menulisnya :) ) Bedanya, dia yang menarik saya. Saya dulu tak percaya. Lagipula jika saya terbuka menceritakan masalah saya, mau tak mau saya jadi dekat. Dan suatu saat akan kembali sakit hati, jika dia pergi. Tapi memang sudah jalannya, saya akhirnya ‘membuka’ diri. Meskipun banyak teman saya, tapi mereka saya adalah pribadi yang selalu ceria, hampir tidak punya masalah. Tapi, saya memang sedikit tertutup. Bagi saya, yang harus dibagi adalah hal-hal kegembiraan. Tapi, saya tahu keegoisan saya itu salah. Saya jadi belajar bagaimana berbagi dengan orang lain, belajar lebih terbuka dengan orang lain. Dan sekali lagi, hubungan ini terputus dengan cara yang tidak indah. Tiba-tiba ada masalah yang jujur saja, saya juga bingung. Dan akhirnya dia memilih pindah kerja di Jakarta. Itu cukup membuat saya shock. Bagi saya dia adalah kakak perempuan yang saya punya. Saat dia berkata, “Re, aku bukan kakakmu lagi!”, sudah membuat saya terpana, kaget, semua campur jadi satu. Dulu sampai berpikir dia pergi karena marah pada saya. Setelah dia pergi, saya sudah tak percaya apapun dan siapapun kecuali Tuhan. Satu tahun berlalu. Tiba-tiba saat dia kembali ke Surabaya, saya tidak sengaja buka HaPe CDMA saya. Masih ada 1 folder berisi sms-sms dia yang cukup berkesan. Isinya, mengingatkan saya buat enggak telat makan agar maag saya tidak kambuh, mengingatkan sholat, menyemangati saya saat dirundung masalah. Tiba-tiba saya ingin menangis, mengingat itu semua. Saya langsung sms dia, yang waktu itu sedang perjalanan balik ke Jakarta. Dia hanya bilang “Re, aku enggak berubah. Kalo kamu enggak gini kan, gak bakal berubah jadi dewasa, kan? Aku tetep sayang kamu, kok :) “. Rasanya speechless banget. Mungkin dulu dia marah banget, sampe saya tidak berani menghubungi lebih dulu hingga satu lamanya. Rasanya bahagia kala itu tak terlukiskan, mendapatkan kakak yang dulu sempat hilang, yang hanya bisa saya impikan. Pada suatu kesempatan, saya mulai tanya kenapa dia marah, apa kesalahan saya. Dia memilih untuk tidak menjawabnya sekarang, karena dia masih di tahap recovery. Kalo dulu saya tidak sabaran, tapi sekarang keadaan sudah berubah. Saya hanya menjawab, “Aku sudah menunggu selama satu tahun, masa tidak mampu menunggu lagi? :) “. Saya sekarang jadi bisa mensyukuri keberadaannya. Kadang saya bertanya apakah saya harus kehilangan orang lain dulu, sampai saya mampu mensyukuri keberadaannya? Saya harap tidak, karena saya sudah mendapatkan pelajaran berharga.

‘Cermin’ saya yang berikutnya karena persamaan sifat pasangan kita. Saat itu kita sama-sama punya masalah dengan pasangan kita. Kebetulan pasangan saya saat itu berzodiak sama dengan dia. Saya bukannya percaya dan ketergantungan dengan zodiak. Hanya, saya mempunyai ketertarikan yang sangat membaca dan mempelajari karakter seseorang, yang diawali dari zodiak dan akan merembet ke latar belakang dan lingkungannya. Tapi sifat dia malah tidak sama dengan pasangan saya. Persamaan mereka hanya romantis dan sensitif. Lainnya, dia malah mirip saya, padahal zodiak kita beda! Sama-sama doyan kupi, moody banget. Akhirnya dari pertemuan dengannya, saya belajar menghargai pasangan saya (meski akhirnya harus berakhir), belajar mengontrol sifat moody, yang banyak merugikan orang-orang di sekitar kami. Hubungan saya dengannya juga hampir berakhir. Saat itu saya merasa ‘tugas’ saya sudah selesai (tugas ini akan saya jelaskan pada tulisan lain, semoga saja :) ). Saya mencoba jujur, dan dia marah sekali. Saat itu dia menimpali, “Kamu pikir aku apa? Seenaknya aja ninggalin gitu aja. Emang kamu pikir kita berteman gitu aja? Tugas apa? Aku enggak mau. Pokoknya kita tetep temenan!”. Saya kaget sekaligus gembira, ternyata dia enggak mau saya pergi. Saat saya mebaca blog nya, saya kaget. Ada seseorang yang dia takuti, dan gara-gara orang tersebut, hidupnya dan hidup keluarganya pernah tidak menyenangkan. Sejak saat itu, saya bilang ke dia, “Nyil (panggilan saya untuknya), kalo dia dateng lagi, dan melakukan hal-hal gak enak, kamu bilang ajah. Aku gak suka dan enggak mungkin diem ajah, kamu ma mama diperlakukan kayak gitu”. Sejak saat itu, hubungan kami baik-baik saja :)

Dan yang terakhir, ‘cermin’ ini dipertemukan denganku di salah komunitas yang saya ikuti. Pertama kali melihatnya, masih belum tahu. Setelah mengobrol dan menganalisa sedikit kepribadian tentang dirinya, mulai memberanikan diri untuk sedikit masuk dalam hidupnya. Saya pikir dia tidak akan begitu kaget. Tapi ternyata, dia malah menebak saya sebagai mindreader :) Sayangnya, saya belum tahap itu, juga tidak berminat membaca isi kepala manusia lain, membuat hidup tidak penuh kejutan lagi :) Dan, sedikit demi sedikit, mulai terkuak apa yang yang dia sembunyikan dari orang banyak dan bagaimana isi hati yang sebenarnya. Dan kali ini, saya benar-benar bersyukur pada Allah SWT, karena telah membuat pertemuan ini. Ini adalah salah caraNYA menunjukkan bahwa DIA sangat mencintai saya. Saat saya dan juga dirinya galau karena ketakutan kita akan kesendirian karena masa lalu kami masing-masing, kami menerima anugrah ini. Saya merasa ini lebih cepat dari dugaan saya. Setelah tahun kemarin saya mendapat anugrah karena bertemu orang yang akhirnya ‘membuka’ jalan pikiran saya, benar-benar berpikir Out Of The Mind dan berusaha melihat dunia dari dimensi yang berbeda dari manusia kebanyakan, agar saya menjadi seseorang yang lebih baik. Saya bersyukur, saat saya mulai merasa kehilangan arah dan seperti menggapai asa sendiri, Tuhan memberikan tanganNYA, dan menunjukkan bahwa DIA tak pernah tidur ataupun lalai dalam menjaga dan mencintai makhlukNYA sepenuh hati. Satu yang mungkin harus saya ingat kembali :


Nikmat mana lagi yang kau dustakan
(AlQur’an)

Kira-kira demikian (saya agak lupa persisnya), salah satu firmanNYA dalam AlQur’an. Kadang kita lupa, bahwa nikmatNYA bukan hanya harta benda melimpah, kekuasaan, tapi ketenangan dan kedamaian hati adalah salah bentuk nikmat yang tak ternilai. Bayangkan jika kita hidup dalam ketakutan, tanpa tempat mengadu, pasti jiwa dan hati kita takkan tenang, bisa-bisa kita malah kehilangan kontrol diri.

Dulu saya mengira ‘cermin’ sebagai bentuk ancaman, tapi saya sekarang bersyukur. Inilah tanda bahwa DIA sangat mencintai saya dan tidak pernah meninggalkan saya, bahkan tidak sedetik pun.

Buat semua ‘cermin-cermin’ku, terima kasih telah mau berbagi, mau membuka diri, dan akhirnya belajar sesuatu dan mengambil hikmah dari pertemuan kita. Semoga apapun yang terjadi, pada akhirnya kita bisa menjadi insan yang jauh lebih baik lagi, baik sekarang, esok, dan sampai kapan pun di antara orang-orang yang kita sayangi dan di hadapanNYA.

*Baru sadar kalo postingan ini cukup panjang, tertular virus dari Aunty :) Termasuk gaya menulis bentuk cerita (cerpen atau novel) dengan percakapan langsung :) *

March 11, 2008

Ketika ketakutan merasuki kalbu,,,

Posted in just me, heart n mind at 6:48 am by justrere

Dia akhirnya mengaku padaku. Setelah cukup lama melakukan denial. Hari itu dia datang padaku. Bertanya, “apakah kamu merasa takut?”. “Ya pernah lah. Setiap orang pasti pernah merasa takut di dalam hidupnya”, jawabku. Akhirnya dia memutuskan untuk cerita saat itu juga.

“Aku tahu, kalo takut itu emang hal yang wajar dalam diri manusia. Tapi apa yang aku alami ini udah berlebihan sepertinya” , dia mulai mencurahkan kegalauannya.
“Berlebihan, gimana?”, selaku padanya
“Makanya dengerin aku selesai dulu, baru, komentar yah”, balasnya
Aku pun hanya membalas dengan anggukan.

Akhirnya dia melanjutkan cerita. “Aku tuh orangnya kan parnoan, kamu juga tahu. Suka mikir yang aneh. Nah, akhir-akhir ini ketakutan yang aku alami semakin menjadi-jadi. Kalo dulu aku cuma takut saat di rumah sakit”, jelasnya.
“Emang rumah sakitnya angker ta?”, tanyaku.
“Makanya dengerin, dodol! Orang masih cerita, kamu sela-sela mulu. Kapan selesainya!”, jawabnya dengan muka sewot.
“Maapppphhhhh, namanya juga kebiasaan… “, balasku dengan muka tanpa rasa bersalah.

“Bukan karena berhantu. Aku juga enggak tahu. Setiap masuk rumah sakit selalu gitu. Mungkin karena aku parno dulu, mikir yang aneh-aneh gitu, dan sebelumnya dah sugesti kalo aku gak bakal bisa tidur, akhirnya, kejadian. Terakhir kali waktu aku diopname, juga gitu, sama, enggak bisa tidur, malah akhirnya disuntik ma obat tidur”. Dia masih berusaha melanjutkan sesi curhat ini, “Beberapa waktu belakangan ini, aku suka gelisah, enggak tenang gitu kalo dirumah. Aku mencoba menganalisis keadaan diriku. Kamu tau sendiri, dulu aku orangnya kan sibuk banget, kuliah, praktikum, organisasi, kerja pula. Bener-bener sibuk. Sampai di rumah, dah capek dan ngantuk, alhasil langsung tidur. Apalagi aku selalu dikelilingi oleh orang-orang, sampai gak berasa sepi. Sampai akhirnya baru kerasa sekarang, saat kuliah dah kelar, cuma ngerjain tesis doang, cuma bisa dirumah ajah. Di rumah juga cuma aku ajah ma pembantu. Ma Ortu juga biasa, enggak terlalu banyak ngobrol. Dan kalo pikiran buntu dan malesku kumat, aku gak bakal nyentuh tesisku itu. Akhirnya malah pikiranku dan hatiku enggak tenang. tiba-tiba berasa aura kesendirian, bener-bener enggak nyaman deh”, jelasnya dengan pandangan menerawang.

“Lalu, darimana kamu menyimpulkan kalo kamu takut loneliness?? Kamu asal tebak ato kebawa ma suasana ajah? “, tanyaku penasaran.
“Ada yg bilang,katanya aku takut sendiri..kayaknya gitu…”, jawabnya
“Maksudku kenapa kok orang itu sampe menilai kamu seperti itu,..”, tanyaku yang masih bingung
“Ada salah satu teman dekatku, kebetulan dia psikolog gitu. Waktu itu, aku dah enggak ngerti mesti gimana. Akhirnya, setelah ngobrol ma temenku itu, dia ngambil kesimpulan bahwa aku ini sebenernya orangnya takut ma kesendirian. Waktu itu aku enggak mau percaya kata-kata dia, masih denial terus”, katanya.
“Trus kamu ngerasanya gimana?”, tanyaku padanya.
“Dulu aku emang ngeyel, bilang enggak. Tapi, sekarang gara-gara ketakutan ini, aku merenung dan kayaknya kok bener yah….”, jawabnya dengan bimbang. “Aku malah larinya maen komputer, main internet, kadang juga maen ma temen-temen kantor, ato maen ma temen-temenku yang lain. Untung ajah temenku cukup banyak, tapi, kalo dah pada sibuk semua, ya aku jalan dari mall ke mall lain, kalo ada banyak orang kayak gitu, aku jadi enggak merasa sendirian”, jelasnya lagi. “Apa aku dah ‘sakit’ yah?”, tanyanya padaku dengan wajah yang sedikit bingung.
“Sakit? Ketika kamu takut, kamu sendiri kamu bilang kamu sakit. Dah ah ga usah terlalu didramatisir. Itu hal wajar kok,.. Setiap orang pasti punya ketakutan-ketakutannya sendiri. Tergantung gimana kita mengontrolnya”, jawabku.
“Jangan mau dikendalikan takutmu,..Tapi kendalikanlah takutmu itu,.. Jadi kita sendiri yang atur,..”, jelasku padanya.
“But How?”, tanyanya bingung.
“Jangan mau diatur takut…Ya atur sendiri, aku yakin kamu cukup dewasa untuk menyingkapi masalah itu,..Pokoknya masukkanku ya yang tadi itu,.. diterima yang monggo, engga ya gapapa.. Aplikasinya,.. pikirkan sendiri, karena itu hidupmu.. So simple khan..”, jawabku sambil tersenyum padanya, berusaha memberikan kekuatan padanya.
Aku melihat binar di matanya dan senyum terukir di wajahnya. Sepertinya dia sudah sedikit mengerti, apa yang harus dia lakukan.
“Kadang aku mikir, apa ini sindrom dari aku yang sibuk, trus jadi ga terlalu sibuk.. Dulu waktu masih sekolah juga aku kan enggak terlalu sibuk kayak waktu kuliah kemarin”, tanyanya lagi.
“Jadi jangan terlalu didramatisir,.. jalanin aja,..giliran sendirian nikmati aja,.. jangan mikir yang engga2.. salurin ke hal2 yang positif. Tidur kek, blajar apa kek, atau apalah…ya yang gimana kamu enjoy ngelakuinnya, kalopun akhirnya mikir2 yang aneh2,.. habis itu pikirkhan juga cara mengcounternya,.. cara menanggulanginya biar ga kejadian,,, mau pikiran yang macem2 kamu harus bisa ngeyakinin kalo kamu bisa ngatasin itu semua,..”, jawabku.

Mata di depanku ini, semakin berbinar. Dia sudah mulai mengerti sekarang, bahwa ketakutan itu adalah hal yang wajar.
Dia kembali bertanya, “Bole tau gak,kamu pernah takut ma apa?”.
“Hmm,.. ketakutan orang itu beda2khan… ketakutanku itu banyak,.. “, jawabku.
“Apa ajah?”, tanyanya masih sedikit penasaran.
“Males ah dibahasnya,. Nah ini salah satu bentuk mindcontroll ku”, jelasku.
“Iyah, gapapa kok. Iya juga sih, kalo kita enggak ngebahasnya, kan salah satu cara enggak inget-inget ketakutan itu, kan”, jawabnya sendiri seraya tersenyum.

Siapapun pasti merasa ketakutan. Tak terkecuali. Semua tergantung dari kita sendiri, bagaimana kita meng-handle kegalauan dan ketakutan yang ada. Jauh sebelum The Secret booming dimana-mana, aku percaya salah satu kutipan di dalam Al-Qur’an, salah satu firmanNYA,

Aku sesuai dengan prasangkaan hambaKU.

So, percayalah pada diri kita sendiri, karena DIA telah menganugerahkan kita akal dan hati nurani, bahwa kita bisa melakukan segalanya. Kuncinya hanya percaya pada diri sendiri dan percaya padaNYA, akan memberikan hasil yang terbaik dari segala terbaik.


Terimakasih pada seseorang disana, meskipun terpisahkan oleh jarak, tapi masih sempat meluangkan waktu untuk berbincang-bincang denganku, dan menginspirasi tulisan ini dengan sedikit banyak moderasi dan perubahan, demi kebaikan semua pihak :)
Dan buat seseorang disini, aku bersyukur padaNYA, karena telah mempertemukan kita, dengan caraNYA sendiri yang tak pernah kita tahu. Aku selalu percaya, bahwa setiap pertemuanku dengan orang-orang di sekelilingku karena sebuah alasan, yang mungkin hanya DIA yang tahu dan kita sebagai manusia hanya menebak-nebak alasanNYA. Semoga tebakanku akan alasan ini benar adanya, dan kita bisa mengambil hikmah tentang satu episode dalam kehidupan kita. (Tulisan tentang pertemuanku dan dirinya, menyusul dalam waktu dekat) :) Updated
: Tulisan ini juga aku dedikasikan buat kamu, karena aku menghargaimu. Jujur saja, tak bisa kubayangkan jika harus berada di posisimu, merasakan hal yang kamu rasa selama beberapa tahun lamanya, sampai kamu harus terus berlari dan berlari. Maaf jika cuma ini yang bisa kuberikan. Aku ingin semua orang di luar sana, yang merasakan hal yang sama denganmu, akan tergugah agar tidak terus lari menghindari kehidupan, tapi akan berani menatap kehidupan itu sendiri. Ada sebuah kutipan yang cukup bagus, diambil dari Koran Sindo,

Tidak berarti Anda akan menemukan kedamaian dengan menghindari masalah-masalah kehidupan.

Virginia Woolf (1882–1941), feminis dan novelis Inggris

Bukannya aku ingin mengeksploitasi dirimu dan menjadikannya bahan tulisan, Nop! Tapi, semua ini buat aku, kamu dan semua orang disana yang mungkin mengalami hal yang kamu rasakan, atau bahkan lebih parah. Semoga kita berdua bisa menjadi lebih baik. So, jangan lari lagi yah. Kita hadapi dan kita berjuang melawannya bersama-sama. Karena kamu enggak pernah sendiri :)

*Ditulis saat berada di rumah Aunty PochaPocha, tengkyu dah memberikan tempat bermalam :) *

March 9, 2008

Lalai…

Posted in just me, heart n mind at 7:16 am by justrere

tak hanya kali ini,
namun berulang kali
lalai padaMU

lalai diri ini untuk sujud di haribaanMU
lalai hati ini bertafakur di hadapanMU
lalai bibir ini melafadzkan asmaMU

hanya karena,
hedoni semata
kesenangan semu semata

padahal, meski ku dengan sengaja
melalaikan semua itu,
nikmatMU selalu ada

oksigen yang masih kuhirup,
setiap sepersekian detik
jantung yang selalu berdetak,
setiap waktu
tak pernah sekalipun Engkau lalai pada hambaMU ini…………

bukankah seharusnya Kau menghukum
hambaMU ini, ya Rabb?
bukankah semestinya Kau marah
pada hambaMU ini, ya Illahi Rabbi?

tapi, masih saja
Kau curahkan kasih sayang
tak berkurang secuil pun,
RahmatMU pada diri ini….

masihkah ada asa,
tuk merengkuh RidhoMU, ya Rabb?
setelah jatuh bangun,
mendustai hati dan diriMU?

terangkanlah hati ini,
sejukkanlah jiwa ini,
dengan CahayaMU, ya Rabb…
diri ini memohon dengan amat sangat, ya Rabb…
agar tak lagi lalai dengan sengaja,
dan berulang kembali terperosok ke dalam lubang yang sama

Akankah ada maaf dan ampunan dariMU, ya Rabb
bagi jiwa yang terombang-ambing,
di lautan kesemuan?

March 8, 2008

Dilema kaffein…

Posted in Journal at 9:24 am by justrere

Kemarin, bener” kacau percenaanku. T_T. Kemarin, jalan ma beberapa temen dari milist CCSby, Reti, Vita, ma Aunty Lala. Kita janjian jalan bareng, menuntaskan kesumpekan kita :P Mulai jalan, dijemput Reti ma Vita dan langsung meluncur ke PeTeCe. Sedangkan Aunty satunya bakal nyusul. Di PeTeCe, kita keliling, muter” enggak jelas :P Ternyata… Aunty ini, emang Ratu Mall, Saluutttt! Tau tempat tas paling murah, tempat makan enak, tempat baju MurMer! Tiap hari Aunty mah ngider mall Setelah ngider di PeTeCe, kita pindah ke Gramedia Expo (again…) nganterin Reti mo beli novel romantis. PS. I Love You. Aku sebenernya cari buku juga, tapi yang aku cari gak ada. Buku tentang bikin vektor dari foto gitu. Adanya di Trimedia PeTeCe waktu itu. Tapi masih bimbang, beli gak…. karena bukan bahan untuk skripsi, hehehehe, tapi lebih ke arah kepuasan hati and nu challenge :P Abis dari Gramedia Expo, (still) lanjut ke TePe. tapi cuma aku ma Aunty ajah, yang lainnya dah capek banget :) Aku cuma pingin ngupi ajah…. Tadi siang cuma makan Mie Bandung waktu di PeTeCe, yang paroan ma Aunty, soalnya perutna dah gak kuat. Bukan karena kenyang. tapi dari dah dari mo berangkat, dah mules”. trus, makan siangnya telat juga. So makan siang, rasanya mual. Tapi, kalo enggak dimasukin makanan sama sekali tambah kacau lagi. Tapi ya githu, enggak bisa makan banyak. Dungaren juga perut kayak gini, biasanya juga enggak suka kumat kok akhir” ini. Apalagi dah nyemil roti di mobil tadi.

Photobucket

Sampai di TePe, langsung ke Java Mocha. Sambil nungguin temen Aunty, Linda. Sebenerna, Aunty cuman butuh Credit Card nya doank, karena ada disk Nah waktu di TePe ini, lampu sempat mati, sekitar 3 kali! Aunty nyeletuk “Belum bayar listrik TePe, Re”. Tetep nih Aunty, hehehehe :P Sekitar jam 19.00, kita pisah. Aunty mo beli lappy (baca : laptop) di BG Junction. Aunty, ayo diperawani lappynya!! Trus, aku langsung balik pulang naek taxi. Rasanya kepalaku dah mulai ada yang maen basket disana Sampe rumah langsung terkapar begitu ajah. Tapi, pikiranku gak enak banget (again…. it was there ) Akirnya lebih milih buka lappy-ku, langsung colok ma CDMA, and online! Mana dirumah dewe an ma Emak (orang yang mengasuh dan bantu” dirumahku, sejak aku belum lahir Ortu malah ke Carrefour, adhekku lagi jalan” ma temennya di TePe (Kok tadi gak ketemu yahh???). Tapi, berasa perutku asem banget, ditambah kepalaku ini….. Akhirnya jam 9 malem…. menyerah…. Bikin Susu Coklat Panas M**O, dan langsung isya’ an and bubuk……. And, bangun secara tiba” jam 4… dengan rasa yang tidak enak, rasanya tidur juga enggak nyenyak…… habis subuhan, langsung online lagi…..

Photobucket

March 6, 2008

Perasaanku…

Posted in just me, heart n mind at 3:00 pm by justrere

gelisah,
gundah,
kabut,
semua bergelayut di tepi hatiku…

selalu saja kembali
ke tepian ini
tanpa pernah bisa
untuk sembunyi
bagaimana pun hati ini berlari
pada akhirnya,
akan bertepi disini

satu asa yang ada
hanya ingin
mendung ini berlalu
bersama awan
yang berarak tertiup angin
dan melepaskan dari perangkap pikiranku

semoga segera berlalu, dan tak kembali hantui hari-hariku

*blogging from my cellphone*

Corat-coret

Posted in PhotoAddict at 11:39 am by justrere

Foto ini diambil beberapa hari lalu. Sebernanya, bikinnya dah lama, sekitar tahun 2007 kemarin. Waktu itu, bantuin Rika, salah seorang teman desainer dari Petra bikin coret-coret di tembok di daerah BAT-ngagel, yang deket rumah juga. Corat-coret ini pakai cat tembok gitu ma sedikit pilox gitu deh. Secara tidak sengaja menemukan bahwa Rika adalah adik kelas saya di SMU 6 Surabaya. Tahunya dia adik kelas juga gara” Friendster :) Thanks to technology! Meskipun tidak ada bakat seni (begitu kata ibu saya :) ), saya tetep bantuin Rika. Gak tega liat ni cewek masuk angin, hehehehe :P So, saya cuma bantu warna-warna sana-sini gitu deh, tapi tentunya sesuai dengan perintah ibu mandor :P Rik, kapan” bikin coret” legal lagi yah… :)

My lovely jeans

Posted in Journal at 6:15 am by justrere

Akhirnya setelah dipakai cukup lama, meski tidak selama celaja jeans ku yang lain, my lovely jeans ini, minta pensiun. Aku beli celana ini sekita 2-3 tahun lalu. Harganya juga enggak terlalu mahal, biasa ajah. Bahannya yang adem dan stretch (bener gak nulisnya yah..?) jadi bikin nyaman dipakai. Beberapa waktu lalu, celana ini udah mulai sobek, karena mungkin sering pakai-cuci-pakai-cuci-dst, sehingga kainnya pun menipis, dan jadi gampang sobek. Dan akhirnya kemarin, celana ini dah mencapai puncaknya, kali yah….. Waktu itu, aku tarik sedikit ke atas, “krek!”. Oppss…. Kyaaaaaa, sobek lageeeee. Mbecekno! hiks… masa mau beli jeans lagi?  :(    lagi penghematan pula…… Yah, jeans kesayanganku, mesti bener” pensiun kali ini.

Previous page · Next page

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.