Posted by: Rere | May 10, 2008

Jangan Pernah Pergi

Bersama Rinduku
Bersama Rindumu
Bersama Hatiku Warnai Langkahmu
Bersama Denganmu Arungi Mimpiku

Tak mengerti
dengan sikapmu akhir-akhir ini
masih ada tanya terselip di hatiku
rindu itu masih adakah?

Ku Berikan Semua
Hanya Untukmu, Hanya Untukmu
Jangan Kau, Jangan Pernah
Jangan Pergi, Jangan Pernah Pergi Dariku
Jangan Kau, Jangan Pernah
Jangan Pergi, Jangan Pernah Pergi Dariku
Jangan Pernah Pergi Dariku

Hanya denganmu
mulai kubuka hatiku
kuberikan segenap asa yang ada
Hanya denganmu
ku yakin akan dirimu
kuberikan setiap keping jiwaku

Bersama Nafasku
Bersama Nafasmu
Bersama Tubuhku Rebahkan Jiwamu
Bersama Denganmu Arungi Mimpiku
(Jangan Pernah Pergi - Alexa)

Semua mimpi ini
hanya terpusat padamu
dengan lakon utama
diriku dan dirimu di dalamnya
Ku ingin rebahkan tubuh ini
bersandar padamu
karena ku tlah lelah mencari
Ku hanya ingin arungi langkah ini
dengan menggenggam hatimu

- cepat kembali ya, my guide…. -

Posted by: Rere | May 8, 2008

blank…

smoke

nyalakan…..
sulut….
hisap….
hembuskan….
hisap lagi…..
hembuskan….
sambil menikmati adiktif yang ada
sambil merenungi beberapa banyak hal….
yang tak berujung….
hisap….
hembuskan, perlahan-lahan…..
hisap lagi…..
hembuskan…..
tak berhenti…….
hanya ada tanya
kenapa, apa salahku?, dan kenapa, kenapa, kenapa??
hisap lagi
hembuskan kembali…..
resapi nikmat dan racunnya secara bersamaan…..

Posted by: Rere | May 4, 2008

Lelah Hati

Diantara gerimis hujan
yang membasahi bumi
sama dengan kalbu ini
tlah tumpah oleh air mata

yang menanti dengan gelisah
kehadiranmu kembali disini
yang menunggu dengan ragu
akankah kudapati dirimu lagi, sayang…

kadang hati ini begitu lelah
untuk selalu menunggu dan menunggu
jawaban dari semua sikapmu
selama ini

kadang jiwa ini menjerit
hingga tak mampu lagi bersuara
mereka-reka semua harapan
akankah masih ada asa bersama

sayang, hati ini tlah lelah
sampai kapankan kau kan diam
hanya membisu
dan menatapku nanar tanpa rasa?

ku ingin memelukmu
ku ingin mengecupmu
ku ingin bersandar di dadamu

ku kan tunggu dirimu
meski kadang lelah
tapi tak mungkin mampu
tanpa nafasmu melalui hari

Ambarawa, 04 Mei 2008, 06.44 WIB

Posted by: Rere | May 1, 2008

unComfort Feeling,,,

Ada hal-hal yang tidak terprediksi
meski sudah direncanakan dengan super-duper matang
tapi, kadang di lapangan
ada hal-hal yang tidak bisa dikompromikan
entah karena keadaan atau karena ketidakberdayaan diri

Rasa tak nyaman ini mulai muncul ke permukaan
entah hanya ketidaknyamanan semata
ataukah aku mulai cemburu padanya
takut ketika pemilik hatinya datang
dan dia akan pergi dariku

picik ya?
mungkin memang…….
meski jika dinalar dengan logika yang ada
tak pantas aku rasa hak seperti itu
karena bagiku,
hanya senyumnya dan bahagianya
yang terpenting

mungkin bukan cemburu
layaknya dua insan yang saling berkisah cinta
tapi lebih karena biasaku atas dirinya
takut dia someday akan hilang
perlahan-lahan
seperti embun pagi yang mulai menghilang
saat mentari mulai bersinar…

diingatkan oleh seseorang,
bahwa dia bukan milik saya
dan dirinya punya kehidupan lain yang mesti dijalani
seperti saya juga punya kehidupan lain
dan kewajiban lain yang mesti dilakukan

mungkin bukan cemburu
seperti perkiraan semua orang
hanya mungkin ketika bukan lagi hanya saya seorang
yang akan diperhatikannya
atau mungkin bukan hanya saya yang akan
diberi kepercayaan olehnya
untuk mendengarkan seluruh cerita dari mulutnya
atau mungkin pula karena tidak menjadi pusat perhatian lagi

semua diawali dengan keegoisan semata
meski dengan pembenaran bahwa
kita juga berhak merasakan
apa yang namanya ‘take n give’
jika demikian apakah ketidaktulusan telah melandasi ini semua?
bukankah seharusnya berilah tanpa menharap balasan dalam bentu apapun
menyayangi tanpa syarat,,,
(dalam hati : mungkinkah….)

by : yang sedang belajar mengontrol keegoisan diri dan belajar menyayangi tanpa syarat

-semoga senyum itu selalu ada di hati dan terpancar di binar matamu, hanya ingin kebahagian untuk dirimu-

Ambarawa, 1 Mei 08, 23.04

Posted by: Rere | April 29, 2008

Ketika Aku Terjerembab (lagi)…

Dari dulu, sebelum terkena ‘pentungan-pentungan’ dari orang-orang terdekat, kebiasaan jelek (mungkin ada baiknya, meski sedikit), saya suka terlalu khawatir dengan orang-orang di dekat saya. Mungkin ada yang nyaman, ada juga yang biasa ajah, tapi ada juga yang yang merasa jengah atau terkekang juga akibat dari rasa kuatir saya akan mereka. Mungkin ini adalah hal yang kita tidak sadari ketika kita sayang dengan orang lain secara berlebihan. Iyah kalau sadar kalau hal itu berlebihan, tapi kalo enggak sadar bahwa hal itu berlebihan, itu yang susah kali yah.

Seperti hari ini, seperti saya menguatirkan my sista. Sejak kemarin tidak ada kabar berita. Saya sampai telepon kantornya, langsung ke mejanya, tidak ada jawaban, mungkin saja dia tidak masuk. Saya mulai berpikir, ada apa gerangan. Apakah berhubungan dengan pangerannya. Begitu banyak pikiran terlintas di pikiran. Seperti saat my inu (terpaksa pake nama ini, hehehe takut ketauan, lagi pula kamu masi suka inuyasha, bukan :) ) hanya terdiam ketika saya sapa. Mulai dari pikiran biasa hingga pikiran terjelek sekaligus. Biasanya saya mampu menasehati teman-teman saya jika dalam keadaan sama dengan saya, “cobalah rileks dan enggak berpikir yang jelek-jelek. cobalah alihkan perhatian dengan kesibukan yang lain”. Tapi semua teori hanya menjadi kata-kata jika kita terpuruk dan merasa malas bersibuk-sibuk ria :) Tapi memang harus berusaha dari dalam diri, enggak bakal bisa berubah kalo dalam diri terlalu malas untuk berubah, kan :)

Seperti ketika persaaan saya kacau balau. Niat awal untuk berbagi rasa dengan orang-orang terdekat, mulai dari my guide hingga best frend yang ada. My guide bilang “kamu terlalu kuatir, serahkan aja semua kepada Allah yang hakiki, toh semua milikNya…” makasih, bang… :) Lalu, ada pembicaraan dengan Ndutty, dia bilang saya berlebihan, dan bikin orang merasa dikekang. “Toh, baru sehari ngilang, kan dulu juga pernah gitu. Siapa lagi hapenya ketinggalan lagi. Kamu jangan mikir berlebihan gitu. Sapa tau dia emang pingin dewe an. Kalo kamu parani (mendatangi) rumahnya, ya dia pasti merasa gak enak, merasa terkekang”. Iya yah… jujur tidak mikir sampai kesana. yah gini deh kalo lagi mellow, pasti enggak bisa mikir jauhan dikit :) Tengkyu, ndut. Terakhir ngobrol ma Nduk…. Dia bilang, “kamu emang berlebihan. bla…bla… (lupa, hehehe). coba kamu 3x nanya pas pagi. 3x nanya pas siang. 3x nanya pas malem klo emg ga dibalas kebangetan. klo uda 3x ditanyain ga ada respon, ya sudah, biarkan dulu kyk klo ngetok pintu rumah orang, katanya klo da 3x ga dibukain, tinggal aja (Nduk, sejak kapan ada aturan kayak gitu, hehehehe). km tu sayaaang bgt sama temen disekitarmu, tapi km tu lupa untuk sayang sama diri km sendiri.menyiksa diri untuk memperhatikan org laen, sementara km itu ga perna memperhatikan diri sendiri, i guess”. Hmmm, kadang ada saat kita enggak bisa melihat secara objektif terhadap kita sendiri yah…..

So, buat orang-oran terdekat yang sering aku kuatirkan, my guide, ndutty, nduk, my sista dan my inu… Re mohon maaf yah…. enggak nyangka kalo mungkin perhatian yang Re berikan bisa bikin kalian enggak nyaman. Yup, segala sesuatu yang berlebihan pasti enggak baik, kan? :) Terima kasih sudah mengingatkan diriku kembali.

- buat my sista, maafkan kelakuan adekmu yang bawel ini :P sudah bikin segalanya tambah rumit (maybe), so kita bisa belajar dari kejadian ini. gud luck buat perjalanan ke ambarawanya, wish you all the best, sista. Kadang apa yang terbaik bukan berarti yang terindah buat dijalani. jangan dilihat indah tidaknya, tapi apakah especially keputusan itu baik buat diri kita apa ndak…. :) (thanks for ndutty buat sms nya :) )-

Read More…

Posted by: Rere | April 26, 2008

Indah Pada Waktunya

Setiap manusia pasti memiliki mimpi masing-masing yang ingin diwujudkan menjadi nyata. Termasuk mimpi tentang hidup bersama dengan orang yang disayanginya, hingga maut memisahkan. Mungkin akan terdengar melankolis, tapi sejatinya itulah yang kita inginkan sebagai manusia yang dianugerahi dengan cinta, bukan? Mungkin banyak diantara kita yang saat ini sudah memiliki calon pendamping hidup, dan tinggal beberapa langkah lagi mewujudkan mimpi menjadi nyata.

Kita dan dirinya, calon pasangan hidup kita, sudah merencanakan sebaik mungkin untuk mewujudkan mimpi itu. Berbagai rencana dari A hingga Z telah dirancang demi kesempurnaan mimpi kita. Di tengah jalan, tiba-tiba orang tua kurang sependapat dengan jalan yang kita tempuh dalam mewujudkan mimpi. Mereka bukan tidak setuju dengan mimpi kita, tapi kurang setuju dengan proses yang kita pilih. Saat itu kita rasanya marah, kecewa, semua perasaan sedih berkecamuk di hati. Begitu banyak pertanyaan “kenapa”, “mengapa” berada dalam kepala, saling sahut-menyahut tanpa ada jawaban yang memuaskan. Di sisi lain, kita yakin dengan proses yang kita pilih, tapi juga tak bisa acuh dengan orang tua kita. Kenapa keadaan tidak memihak pada kita, padahal dulu keadaan begitu mendukung mimpi ini. Kita mulai mempertanyakan dimana keadilan Tuhan bagi umatNya. Mulai ragu, apakah Tuhan ada disana untuk mendengarkan pinta pada hambaNya.

Seiring dengan berjalannya waktu, mendung perlahan mulai tergantikan dengan awan cerah. Mulai ada jalan untuk kompromi antara kita dengan orang tua dan keadaan sekitar. Kita mulai bisa melihat dalam kabut tipis yang masih menyelimuti perjalanan ini. Tapi kita tahu, bahwa kita khilaf, sudah berprasangka buruk terhadap Tuhan. Ternyata Tuhan mendengar semua pinta kita. Hanya Tuhan masih menunggu, menunggu kesiapan kita untuk menerima lebih banyak lagi anugerah dan nikmatNya. Mungkin kemarin Tuhan melihat dari atas sana, kita masih belum pantas untuk menerima semua mimpi kita. Dan Tuhan yang paling tahu kapan waktunya kita siap menerima ini semua dan hanya Tuhan yang tahu apa yang paling kita butuhkan bukan saja kita inginkan sementara saja. Karena Tuhan akan menjadikannya indah semua nikmat dan anugerahNya ketika tiba saatnya.

Posted by: Rere | April 26, 2008

Since YOU Came Into My WORLD

Kau datang tak terduga
Seperti hujan di pagi ini
Sejuk dan lembut
Membasuh hatiku yang kosong

Kau bawa senyum
Kau beri damai
Kau tawarkan kehangatan
Yang selama ini hanya angan

Tak pernah terkira
Hadirmu tlah membiusku
Tak pernah berprasangka
Bayanganmu tlah merasuki jiwaku

Setapak demi setapak
Kau pupuskan ragu yang ada
Menuntunku dengan sayapmu
Ajariku terbang, menjemput asa
Yang dulu hanya ada dalam mimpi

Pintaku pada Sang Pemilik Cinta
Semoga mimpiku dan mimpimu
Akan menjadi mimpi paling sempurna
Dan hanya akan menjadi milik kita…

Posted by: Rere | April 26, 2008

Pelangi Rindu

Kala kau hadir dalam hari-hariku
Ku tak bergeming
Saat kamu tawarkan asa yang ku rindu
Ku masih ragu…

Kau tak pernah menyerah atasku
Perlahan, tapi pasti
Kau berikan senyuman
Kau berikan tawa
Dalam setiap malam-malamku

Duniaku menjadi berwana-warni
layaknya pelangi ketika hujan turun
kau sirami hati ini
dengan peluh cintamu

Kau bawa diri ini
terbang ke dalam relung hatimu
Kau bawa jiwa ini
merasakan kehangatan cinta

Meski terbentang jarak,
Memendam pelangi rindu
Hanya satu yang pasti
mereguk Asa kita, ‘tuk selalu bersama

-dibuat untuk dirinya disana yang sedang merenda kasih dan rindu dengan pujaan hatinya. semoga dapat sedikit terhibur :) -

Posted by: Rere | April 26, 2008

(masih) Menantimu disini…

Menyusuri hangatnya pasir
Sehangat pelukanmu padaku
Masih jelas terasa
Tapi bayangmu tlah berlalu
Bersama ombak pantai

Waktu kian berlalu
Tinggalkan Ku menepi
Ku hanya menanti
Bayangmu dalam mimpiku

Rindu ini bagai panah
Yang membunuhku perlahan
Tanpa pernah tahu
Kapan datangnya waktu
Asamu menjemput sisa jiwaku

12 Agustus 2007, 17.01 WIB, Mosque depan Kantor Klampis

-Kemarin menemukan puisi ini. Saya simpan disini, agar tidak tercecer :) -

Posted by: Rere | April 24, 2008

Mendapat Hati dan Kepercayaan dari Orang Lain

Pernah mendengar ungkapan bahwa mendapatkan sesuatu jauh lebih mudah daripada menjaganya? Bagi saya pribadi, sebenarnya sama saja, hanya tantangan yang ada berbeda. Begitu pula dengan mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Pagi ini, seorang teman mencoba meminta ijin kepada orang tuanya untuk melakukan perjalanan ke luar kota. Dia ingin mengikuti kegiatan dengan komunitasnya yang kebetulan diadakan di luar kota. Selain itu juga untuk menemui pujaan hatinya :) Teman saya ini kebetulan perempuan. Saat orang tuanya tidak memberi ijin, dia langsung mutung. Mutung adalah bahasa jawa dalam pergaulan, yang artinya bisa sama dengan ngambek. Membaca sms nya membuat saya sedikit tersenyum. Di umurnya yang sekitar 3 tahun di atas saya, dia masih bisa mutung ‘hanya’ karena tidak dapat ijin. Dia sempat bilang “tau gitu, gak usah bilang, langsung cabut kayak biasanya”. :) Saya jadi ingat pengalaman pribadi, memang tidak mudah meminta ijin dimana posisi saya sebagai perempuan pergi ke luar kota tanpa dampingan orang kepercayaan keluarga, hanya teman-teman komunitas.

Mungkin pembelajaran tiap-tiap keluarga beda. Dulu saya pernah akan ditugaskan ke luar pulau oleh kantor, Ibu saya tidak memberi ijin, karena saya harus berangkat sendirian, padahal saya tidak kenal medannya. Tapi bagi saya tidak masalah. Tapi, karena saat itu saya tau keadaan Ibu saya, saya meminta teman kantor saya yang berangkat :) Lalu kemarin, saat saya ingin ke Malang, saya mencoba meminta ijin Ibu, dengan alasan yang jujur, ingin bertemu teman dan saya perginya dengan salah satu teman laki-laki saya (bukan pacar, cuma teman :) ). Seperti biasa Ibu saya akan tanya, naik apa, nginep dimana, berangkat dengan siapa, dan hal-hal lainnya. Saat itu saya memposisikan diri saya sebagai Ibu. Jika saya punya anak perempuan, dan anak saya pergi dengan orang yang tidak saya kenal dan menginap di tempat yang saya tidak tahu, tentunya saya juga khawatir kan? Cuma saat itu, ketika saya berbicara dengan Ibu saya, saya mencoba meyakinkan beliau, bahwa tujuan saya tidak anah-aneh. Jika tujuan kita baik, insyaAllah, hasilnya juga baik pula, kan.

Sedikit tips dari saya, ketika berbicara dengan orang tua, cobalah tatap matanya, tunjukkan lewat mata dan ekspresi anda, bahwa anda bisa menjaga kepercayaan yang diberikan. Dan memang tidka bisa langsung mendapat ijin. Semuanya butuh proses. Dan ketika tidka mendapatkan restu dari orang tua, jangan mutung dan marah terhadap mereka. Cobalah mengerti, mereka cuma khawatir saja. Pelan-pelan jelaskan kepada mereka tujuan anda meminta ijin dan anda harus jujur. Setiap Ibu akan memiliki insting apakah anaknya jujur atau tidak :) Jelaskan pula, bahwa suatu hari kita akan menikah dan lepas dari orang tua. Perjalanan ke luar kota ini adalah bentuk pembelajaran diri menjadi lebih dewasa dan mandiri. Dan pengalaman itu akan berguna saat kita lepas dari orang tua nanti. Kalau niat kita baik, insyaAllah nantinya orang tua akan luluh juga dan memberikan ijin. Dan setelah mengantongi ijin, jangan kupa dijaga baik-baik amanah mereka. Sekali amanah mereka kita langgar, akan sulit mendapat kepercayaan mereka kembali. Dan jika tidak mendapat ijin, jangan tiba-tiba pergi begitu saja. Selain tidak mendapat restu bisa saja terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan selama perjalanan, juga membuat orang-orang di sekitar kita termasuk orang tua sangan khawatir. Dan bukan tidak mungkin orang tua akan semakin menekan kita. Jadi sebaiknya mengambil kepercayaan orang lain, terutama orang tua dengan pendekatan persuasif. Jika memang terjadi sedikit perdebatan kecil, usahakan intonasi suara tetap datar ke rendah, meski kadang hati juga sebel, tapi jangan sampai meninggi, tahan emosi, apalagi sampai ‘nyolot’, jangan sampai ya.

Mari belajar mengambil kepercayaan orang lain especially orang tua dengan cara yang lebih bijak dan menanggapi hasilnya juga dengan bijaksana dan dewasa :)

nb : Tulisan ini bukan bermaksud menyindir atau mendeskreditkan satu atau banyak orang. Hanya berusaha melihat dari sudut pandang yang lain, Out of The Mind, dan saling berbagi saja :)

Older Posts »

Categories